Sehari Produksi 50 Kg Maggot
SORONG– Gubernur Papua Barat Daya yang diwakili Staf Ahli Bidang Otonomi Khusus (Otsus) Beatrix Msiren, SE didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Provinsi Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu ST, M.Si meresmikan Rumah Maggot Keli dan Kandang Lalat BSF di Jalan Jambu Aimas Kabupaten Sorong, Kamis (30/4/2026).

Sorong. (Rosmini/SuaraSorong)
Peresmian Rumah Maggot Kelly yang berukuran 17 x 9 M2 ditandai dengan pengguntingan pita oleh Staf Ahli Bidang Otsus, Beatrix Msiren dan dilanjutkan dengan meninjau maggot yang sudah dihasilkan. Pembangunan Rumah Maggot yang dilengkapi dengan satu unit kendaraan merupakan hasil kolaborasi Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat Daya dengan Yayasan Penabulu.

Direktur Program RBP REED + Yayasan Penabulu, Muhammad Abdul Syukur, S.Hut mengungkapan pembangunan Rumah Maggot ini bermula dari adanya upaya pemerintah yang berhasil dalam menurunkan emisi dimana dana yang bersumber dari luar negeri kemudian dikucurkan ke seluruh provinsi di tanah air, termasuk Provinsi Papua Barat Daya yang mendapatkan kucuran dana Rp 17 Miliar.
“Pembangunan maggot bagian dari program ini. Bagian program yang kami sebut sebagai program kampung iklim. Kampung iklim adalah bagian dari program dari pemerintah pusat yang dikerjakan oleh pemerintah provinsi,”jelas Syukur saat menyampaikan sambutan.
“Jadi ini adalah bagian dari program yang kita jalankan bersama Pak Kelly. Terima kasih Pak Kelly dan jajaran dari Dinas Lingkungan Hidup yang walaupun dinas ini masih baru, kita semaksimal mungkin melakukan proyek ini, program ini bersama-sama dan inilah hasilnya. Saya lihat memang barangnya ada dan semua yang ada di sini menyaksikan atau menyaksikan bagaimana proses ini akan dipermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan hidup. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan semua, apa yang kita berikan pada kelompok ini dan masyarakat sini bermanfaat untuk lingkungan dan masyarakat sekalian,”ujar Syukur kemudian.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu dalam laporannya mengungkapkan komitmen dalam memproduksi maggot yang akhirnya memiliki rumah merupakan jawaban dari sebuah keresahan melihat masyarakat yang buang sampahnya di sembarang tempat, khususnya sampah organik.
“Sehingga kami berusaha untuk mencari solusi. Salah satu solusi yang baik untuk mengolah sampah organik adalah dengan maggot. Maggot ini adalah berkat dan anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk mengolah sampah-sampah organik, sampah dapur yang bersumber, yang dihasilkan dari hotel, pasar, rumah sakit, rumah makan, rumah tangga dan lainnya,”ujar Kadis LH PBD, Kelly Kambu kepada media.
Dalam prosesnya, tumpukan-tumpukan sisa sampah organik berupa sampah dapur diurai oleh maggot dalam 24 jam. Kalau sampahnya sedikit hanya butuh 1-2 menit sampah yang dimakan maggot itu habis.
“Nah ini luar biasa, sehingga hasil dari maggot ini, sekali dayung, 2-3 pulau terlewatkan. Artinya, dari sektor pertanian, bisa ada pupuk organik, tadi kita sudah dapat penjelasan dari pelaku pertanian yang menanam semangka, bahwa dia menggunakan pupuk organik maggot, sangat luar biasa. Buahnya tahan lama, buahnya segar, pupuk yang tadi dirinya mahal, menjadi murah, 50% dari itu sudah bisa mengatasi,”jelas Kelly Kambu.
Lanjut dijelaskan, bahwa maggot yang dihasilkan bisa jadi pakan ternak seperti bebek, itik, ikan nila, ikan mujair, ikan lele. Dan semua ini dijamin sehat, karena maggot mengandung unsur protein sekitar 40-60 persen.
Kadis LH juga mengungkapkan bahwa komitmennya mengolah sampah organik ini juga sejalan dengan perintah Presiden Prabowo yang menyampaikan pengelolaan sampah termasuk sampah organik menjadi prioritas nasional.
Rumah maggot yang didirikan sebagai percontohan peternakan maggot. Seperti disampaikan oleh pengelola Rumah Maggot Keli, Supendi, dalam 1 hari, maggot yang diproduksi bisa mencapai 50 Kg/hari. Sedangkan target sampah yang diurai di Rumah Maggot Keli bisa 400 Kg-500 Kg/hari.
“Maggot yang kita hasilkan nantinya akan dijual jadi kita harus melalui perhitungan HPP biaya pokok produksinya. Hal ini agar bisa menekan penjualan harga maggot. Karena disisi lain, pelaku peternak lagi menjerit dengan harga pakan yang melambung,”ujar Supendi.
Salah satu petani semangka yang ditemui di sekitar lokasi Rumah Maggot menuturkan bahwa setelah menggunakan pupuk organik dari maggot hasilnya jauh lebih baik dimana buah semangka yang dihasilkan sangat baik kualitasnya. (min)






