Akui Salah, Oknum Guru Minta Maaf kepada Ortu Siswa
SORONG– Dengan mata yang berkaca-kaca, mama Pi tak dapat menutupi rasa sedihnya saat menceritakan kejadian yang menimpa puteranya, Pi, siswa salah satu SMP Negeri di Kota Sorong.
Bagaimana tidak, enam bulan lalu, puteranya, Pi mendapat perlakuan yang dinilai sangat tidak wajar dilakukan oleh seorang pendidik. Dimana rambut PI sengaja dibakar oleh oknum guru yang saat ini menjabat sebagai kepala sekolah di SLTP tersebut.
Tidak hanya rambutanya dibakar, menurut mama Pi, anaknya juga mendapat perlakuan kekerasan dimana ada merah di testanya seperti habis dipukul.
Dituturkan oleh mama Pi, sebelum berangkat ke sekolah.setiap paginya Pi biasa masak air panas. Setelah masak air panas, Ia ke sekolah tapi lupa taruh korek api yang disimpan di saku bajunya, langsung dbawa ke sekolah.
Saat apel pagi di sekolah, ada pemeriksaan dari sekolah dan diketahui ada korek api di saku baju Pi.
“Kemudian salah satu guru di SMP itu dia memegang korek api itu lalu membakar rambut anak saya. Sebelum membakar itu, dia pukul dulu. Saat kejadian, pagi itu pas ada apel pagi jadi anak-anak sekolah pasti banyak, guru-guru juga pasti banyak disitu,”cerita mama Pi.
“Setelah itu anak saya pulang dari sekolah tidak dia tidak sampaikan ke kami orang tua saat pulang dari sekolah itu siang hari saya lagi istirahat di rumah di tempat tidur saya lihat samping kiri atau kanannya itu ada ada bengkak jadi saya tanya dia tidak mau sampaikan dia masuk keluar rumah masuk lagi ke dalam rumah saya tanya kenapa testanya macam bengkak, macam merah-merah begitu,”tutur mama Pi.
Saat ditanyakan kejadian apa yang menimpanya, Pi menurut mamanya diam, tapi matanya merah Pi menangis.
“Terus saya sampaikan ke bapaknya coba Pak tanya Pi dulu itu kenapa sampai ada bengkak sama ada merah-merah di testanya. Saat bapaknya tanya, barulah Pi mengatakan kalau dirinya dipukul sama oknum guru sekolah dan rambutnya dibakar.,”cerita mama Pi.
Saat rambut Pi dibakar sempat ada api menyala namun tidak lama karena dengan tangannya oknum guru itu langsung memegang ujung rambut Pi yang terbakar itu sehingga apinya pun padam.
Setelah kejadian itu, oknum guru itu kemudian membawa Pi ke tempat pangkas rambut. Karena merasa salah dengan apa sudah dia perbuat, oknum guru itu menawarkan sejumlah uang kepada Pi namun dengan pilihan “terima uang ini tapi keluar dari sekolah “.
Tapi karena Pi mengaku masih mau sekolah di SMP itu, Ia tidak terima uang tersebut. “Uangnya banyak, ada seratus-seratus,”ujar mama Pi menirukan ucapan Pi.
Yang sangat disesalkan oleh orang tua Pi, sampai saat ini, oknum guru tersebut belum pernah bertemu ataupun menelpon dirinya langsung untuk meminta maaf.
“Saya rasa kecewa, sangat kecewa. Karena anak-anak Papua ini kan harus kita kasih pendidikan yang layak. Jadi saya harap mungkin ke depannya itu guru yang terkait mungkin bisa dikasih sanksi atau dikasih pendidikan yang lebih bagus lagi, supaya ke depannya dia lebih tahu arti dari pendidikan,”ujar mama Pi.
Setelah kejadian itu, satu minggu Pi tidak sekolah karena sakit. Dan menurut ortunya, meski sudah 6 berlalu, sampai saat ini Pi masih trauma ketemu dengan oknum guru tersebut. “Kalau ketemu, dia (Pi) sembunyi-sembunyi,”ucapnya.
“Kami orang tua, memang bapaknya sempat marah dan ajak untuk kita ke sekolah, tapi saya bilang tidak usah dulu kita ikuti karena anak-anak kan baru terkembang begini, tidak boleh kita tekan, jangan sampai dia lebih takut,”ujar mama Pi.
Dari komunikasi dengan wali kelasnya, dikatakan bahwa kepala sekolah (oknum guru tersebut) sudah bicara dengan Pi di sekolah dan masalahnya sudah selesai.
Namun orang tua Pi tetap kecewa dan sangat menyesalkan kejadian yang menimpa puteranya. “Saya memang sempat marah, rambut anak dibakar, kalau orang lain itu mungkin sudah datang demo ke sekolah. Tapi kami tidak,”ujar bapak Pi.
Ditegur Berkali-kali, Rambut tidak Dicukur
Dikonfirmasi media, oknum guru yang kini menjabat Plt Kepala Sekolah di SMP tersebut, Firdina Panca Febriani, S.Th, M. Miss mengakui membakar rambut Pi, tapi menurutnya, rambut yang disulut korek api itu hanya ujungnya dan Ia langsung dengan tangannya memadamkan api tersebut.
Ia mengakui tindakan membakar rambut siswanya, Pi itu salah sehingga diakhir penjelasan dengan media, Firdina menyampaikan permohonan maaf kepada orang tua Pi.
Hanya saja, dikatakan Firdin dari kejadian ini, Ia sebagai Plt Kepala Sekolah akan lebih selektif dalam menerima siswa yang mau dibina di sekolah yang Ia pimpin.
“Saya minta maaf atas kesalahan yang saya lakukan bulan September 2025. Dari situlah menjadi pembelajaran bagi saya untuk sortir siswa yang mau dibina. Karena sudah ada tata tertib yang dimaterai 10 ribu. Jika tidak mau dibina di sini silahkan dibina oleh orang tua. Itu yang aturan sekarang,”ucapnya.
Kepada media, Firdina membantah dirinya melayangkan pukulan ke Pi sampai dahi Pi merah. “Tidak, tidak ada pemukulan, karena waktu itu ramai, kalau ada yang pukul saya tidak tahu,”ujarnya.
Dikatakan oleh Firdina, masalah ini sebenarnya sudah diselesaikan oleh guru BK dengan orang tua siswa. Soal kenapa dirinya belum menemui orang tua Pi untuk menyampaikan permohonan maaf, menurutnya, beberapa kali guru BK yang akan memfasilitasi pertemuan belum berhasil mempertemukan karena orang tua Pi belum ada waktu untuk ketemu.
“Guru BK selalu konfirmasi ibu ada waktu baru kita ke rumahnya bapak dan ibu Pi. Jadi ada etiket baik dari saya untuk melakukan permintaan maaf ke orang tua. Dan BK bilang ibu sudah saya urus, sudah selesai,”ujar Firdina.
Menuturkan bagaimana sampai Ia membakar rambut Pi, Firdina mengatakan bermula dari Pi yang berkali-kali diingatkan untuk potong rambut namun tidak juga diindahkan. Dan surat teguran juga sudah disampaikan kepada orang tua agar Pi mecukur rambutnya sesuai aturan di sekolah. Menurut Firdina, teguran itu sejak bulan Juni 2025 sampai September akhir saat apel pagi, rambut Pi belum juga dicukur.
Saat itu, Firdina masih sebagai guru agama dan bertugas sebagai guru pikat. Yang menyulut emosi Firdina, Ia melihat di saku baju Pi ada korek api.
“Padahal korek api selalu kita sita, ketika sweeping. Dengan alasan dia masak, lupa menaruh korek apinya. Karena saya ingatkan dia sudah 4 bulan, kenapa tidak di cukur, tidak dicukur. Saya ambil korek ini karena saya tahu laporan dan ada bukti kalau dia merokok di lingkungan sekolah. Saya memang bakar, terus (api) langsung saya tangkap. Saya masih berpikir, rambutnya saya tangkap. Jadi tidak sampai terbakar banyak,”tutur Firdina.
“Jadi engga sampai anarkis bakar sampai banyak, hanya sedikit yang saya bakar saya tangkis-tangkis saya hapus begini saja hapus kan itu enggak panas,”imbuhnya.
Setelah membakar rambut Pi, Firdina mengajak Pi ke tempat pangkas rambut (barbershop) untuk cukur rambutnya. “Karena itu masih sekitar jam 08.00- jam 09.00 Wit ke Bebershop untuk potong rambutnya,dirapikan,”tuturnya.
Saat ditanya media apakah tindakan membakar rambut Pi itu bagian dari pembinaan ? Tanpa menjawab secara langsung, Firdina mengatakan itulah cara dia pribadi karena diakuinya memang tidak ada jukdis (petunjuk teknis)nya.
“Tapi saat itu anak ini sudah 4 bulan dan berkali-kali diingatkan dengan teguran disampaikan ke orang tuanya tapi disampaikan orang tuanya masih di luar kota. Bukan saya bilang itu wajar nanti saya bilang salah. Tapi itu saya. Itu pernyataan dari saya sendiri saja,”ujar Firdina.
Ia juga mengakui setelah kejadian, Ia sempat mau memberikan uang kepada Pi. “Saya menyampaikan saya salah ambil uang ini sebagai wujud permintaan maaf saya. Kasih ke orang tua jangan dikurangi. Tapi dia (Pi) bilang, ibu enggak usah kasih uang, tapi saya sekolah di sini,”tutut Firdina menirukan ucapan Pi.
Dikatakan bahwa bukan hanya kepada Pi, semua siswa wajib mentaatu aturan di sekolah. Jika ada siswa yang karena terbentur biaya sehingga tidak bisa cukur rambut, Firdina mengaku biasa turun tangan bawa ke barbershop untuk cukur rambut siswa tersebut.
Firdina juga mengatakan, merokok atau yang lainnya masih ditolerir untuk dibina, tapi jika siswa sampai terlibat dengan ganja (narkoba). sekolah tidak bisa membina maka sanksinya keluar dari sekolah yang Ia pimpin. (min)







