MESKI namanya belum setenar Raja Ampat- obyek wisata yang sudah mendunia di Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Daya-, namun dari transformasi Kampung Adat Malasigi yang menerapkan inovasi filter air berbahan pelepah pisang, bukan hal mustahil kelak akan mengantarkannya sebagai ikon wisata tersohor kedua di Provinsi Papua Barat Daya.
Diliputi hati penuh ceria, jalan-jalan ke Kampung Adat Malasigi Distrik Klayili Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat Daya bersama rombongan media visit PT Pertamina EP Papua Field akhir Juli lalu, tidak terpikir akan menginjakkan kaki di sebuah aliran sungai yang betul-betul panas, yang oleh warga setempat dinamakan dengan Kali Air Panas “Belempe”.

Dengan jalan kaki sekitar 1 jam lebih dari kawasan ekowisata Kampung Adat Malasigi, Kali Air Panas “Belempe” Sungai Klaluguk merupakan salah satu obyek wisata yang masih sangat asri.

Meski berjalan di bawah terik panas matahari, namun semilir angin yang berhembus dari rimbunnya pepohonan nan hijau membuat kami pun tetap semangat hingga akhirnya kami pun sampai di “mata” jalan Kali Air Panas “Belempe”.
Seperti menuju ke Piaynemo Raja Ampat, untuk tiba di Kali Air Panas “Belempe”, sudah ada penghubung jembatan kayu dengan puluhan anak-anak tangga yang cukup kokoh.
Memandang aliran Sungai Klaluguk yang tampak hijau dengan hamparan bebatuan hitam yang ada di sekitarnya membuat decak kagum diiringi ucapan “Masya Allah bagus sekali ya” terdengar dari rombongan media vist PT Pertamina EP Papua Field.
Sayangnya karena lagi musim panas, Air Panas “Belempe” tidak bisa dipakai untuk berendam atau mandi. “Kalau musim panas begini, tidak bisa berendam karena air kali panas sekali,”ujar Yoel Fami, Tokoh Pemuda Kampung Adat Malasigi.
Benar yang dikatakan Yoel, saat berdiri di atas bebatuan dan mencoba menurunkan kaki di kali air panas, wow sensasi air panas yang menembus lapisan kulit kaki benar-benar terasa. Karena baru pertama kali menemukan kali air panas di Papua Barat Daya, rasa penasaran pun mendorong untuk kembali mencelupkan jari dab cuci muka pelan-pelan dengan Kali Air Panas Belempe yang bersumber dari bebatuan tersebut.
Sebagai salah satu tempat wisata, diakui oleh Yoel, yang berkunjung ke Kali Air Panas Belempe masih sepi. “Biasanya masyarakat sekitar saja yang datang. Kalau dari luar belum banyak. Mungkin karena jaraknya jauh dan jalan ke sini (Kampung Adat Malasigi) juga belum bagus,”tutur Yoel Fami.
Menyebrangi Kali Air Panas “Belempe”, Kampung Adat Malasigi juga memiliki obyek wisata lainnya yakni Gua Wo’batiwala sepanjang ratusan meter. Menyusuri Gua Wo’Batiwala, wisatawan akan melihat rombongan kelelewar yang keluar dari sarangnya.
Bukan hanya itu, yang sangat menarik dan menjadikan wisatawan manca negara berkunjung ke Kampung Adat Malasigi karena kawasan hutannya menyimpan berbagai satwa endemic Papua.
Dan yang menjadi incaran wisatawan asing di Kampung Adat Malasigi adalah adanya 5 species Burung Cenderawasih yang oleh masyarakat setempat diantaranya ada yang disebut Burung Cenderawasih Kuning Kecil, Cenderawasih Raja Merah Putih dan Burung Cenderawasih Dada Biru.
“Yang paling diminati tamu asing Burung Cenderawasih Kuning Kecil, karena menarinya paling bagus. Kadang di spot itu bisa sampai 10 burung menari disitu,”ujar Yoel.
Potensi wisata yang begitu menjanjikan dengan hamparan kampung yang bersih ditunjang dengan fasilitas yang tersedia seperti telah tersedianya tempat penginapan (homestay), dengan listrik dan air bersih yang terjaga mengantarkan Kampung Adat Malasigi meraih juara I nasional Kategori Desa Wisata Rintisan pada ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 lalu yang digelar oleh Kementerian Pariwisata RI.
Meski belum memiliki data pasti terkait tingkat kunjungan wisatawan, namun keberhasilan Kampung Adat Malasigi di ajang ADWI 2024 diakui oleh tokoh pemuda adat Malasagi, Edison Fami, berdampak positif dalam kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara yang makin meningkat. Selain itu kesejahteraan dan ketahanan ekonomi masyarakat setempat juga semakin membaik.
Semua ini tidak lepas dari adanya peran PT Pertamina EP Papua Field yang menjadikan Kampung Adat Malasigi sebagai kampung binaan. Salah satu dampak yang sangat dirasakan masyarakat atas kehadiran PT Pertamina EP Papua Field adalah tersedianya air bersih.
“Malasigi prospeknya luar biasa. Kampung perintis wisata yang harus kita support penuh sehingga dengan target akhir mereka bisa mandiri,”ujar Field Manager Pertamina EP Papua, Ardi.
Dikatakan oleh Ardi, meskipun telah berhasil mengelola ekowisata, Malasigi masih dihadapkan pada keterbatasan pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya akses terhadap air bersih. Selama ini, masyarakat memanfaatkan air sungai secara langsung tanpa proses pengolahan, selain dengan cara mengendapkan air di bak penampungan untuk memisahkan padatan tersuspensi.
Kesulitan warga mendapatkan air bersih juga diakui Edison Fami. “Dulu kita dengan ember jalan cari air di kali (Sungai-Red), sekarang pipa air langsung ke rumah, tinggal putar keran air mengalir,”tutur Edison Fami, salah satu tokoh yang berperan dalam menggerakkan komunitas menuju pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan di Kampung Adat Malasigi.
Inovasi Revitaleaf (Revitalizing Clean Energy and Biodegradable Water Filtration Using Banana Leaf)
Dalam program menyediakan air bersih di Kampung Adat Malasigi, PT Pertamina EP Papua Field menerapkan green innovation dengan melakukan revitalisasi transisi energi dan pemenuhan kebutuhan air bersih dengan menggunakan bio-degradable filter berbahan pelepah pisang menjadi Hydro B-Leaf Filter yang berasal dari sumber daya lokal.
“Mendapatkan pelepah pisang tentunya sangat mudah, karena dalam aktivitas pertanian multikultur di Kampung Adat Malasigi, tanaman pisang menjadi salah satu komoditas utama yang dipanen secara berulang sepanjang tahun. Pelepah pisang pasca panen yang sebelumnya belum termanfaatkan juga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan,”ujar Field Manager Pertamina EP Papua, Ardi.
Inovasi pengolahan air berbahan dasar filter pelepah pisang (Hydro B-Leaf Filter) pertama di Indonesia yang dilakukan Pertamina EP Papua Field dengan melibatkan masyarakat adat setempat.
Dan Inovasi Revitaleaf telah berhasil memperbaiki kualitas air sungai menjadi layak pakai kepada masyarakat kampung Malasigi, yang merupakan inovasi pertama dan satu-satunya di Indonesia.
Hydro B-Leaf Filter dengan bahan dasar pelepah pisang resmi memiliki sertifikat Paten sederhana dengan nomor paten IDS000008483. Dengan pengakuan ini, masyarakat Malasigi menjadi kampung percontohan penerapan inovasi hijau berbasis potensi lokal dalam memenuhi kebutuhan air bersih dalam lingkup masyarakat adat.
Dengan menggunakan filter pelepah pisang, menurut Edison Fami, yang mengalir ke rumah warga dan tempat penginapan di Malasigi sangat jernih. “Air kita pakai untuk masak, minum juga pakai. Buka keran kita bisa minum karena air sudah jernih,”ujar Edison Fami.
Tersedianya air bersih di Malasigi Homestay tentunya membuat tamu betah dan ingin kembali berwisata di Kampung Adat Malasigi. Seperti homestay di tempat wisata lainnya, tempat penginapan, Malasigi Homestay dilengkapi fasilitas kamar tidur sederhana, kasur, bantal, selimut dan kamar mandi dengan air yang jernih.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Dr Yusdi Lamatenggo, S.Pi, MM mengatakan, Malasigi merupakan salah satu contoh bagaimana mengelola kampung wisata secara kolaboratif.
“Tahun 2002 itu belum ada, tahun 2003 mulai inisiasi awal, tahun 2004 baru kita dorong ke Kementerian Pariwisata dalam lomba desa wisata mewakili provinsi. Jadi disitu banyak pihak yang bekerja ada Pemerintah Kabupaten Sorong, Pemerintah Provinsi, Flora dan Fauna, dan Pertamina. Jadi ini semua kolaborasi semua pihak masing-masing dengan perannya,”ujar Yusdi Lamatenggo.
Bahwa Malasigi meraih juara I nasional kategori Desa Wisata Rintisan pada ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 karena keunikan wisata budaya khas Moi Keilim, selain itu keindahan alamnya (ekowisata) luar biasa dan sangat dinikmati oleh wisatawan mancanegara.
“Sejak Malasigi jadi pemenang (juara 1 nasional kategori desa wisata rintisan), semakin banyak wisatawan yang ke sana (Malasigi-Red), tinggal di homestay, masuk ke hutan dengan masyarakat dan kemudian balik lagi. Jadi kita sangat bersyukur banyak dukungan dari berbagai pihak dan itu yang memang kami harapkan,”tandas Yusdi Lamatenggo. (rosmini)






