MEMILIKI potensi alam dengan tanah yang begitu subur, PT Pertamina EP Papua Field tidak hanya menerapkan inovasi baru dalam pemenuhan kebutuhan dasar air bersih dan listrik di Kampung Adat Malasigi, tetapi juga menggerakkan kemandirian ekonomi masyarakat setempat.
Menginjakkan kaki di Kampung Adat Malasigi Distrik Klayili Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat Daya, cuaca cerah dengan udara sejuk mengiringi kedatangan rombongan media visit Pertamina EP Papua Field, Senin 27 Juli 2026. Hati terasa begitu happy melihat prosesi penyambutan yang tulus dari masyarakat Suku Moi Kelim yang tinggal di Kampung Adat Malasigi.

Sebelum turlap (turun lapangan) meninjau obyek yang akan menjadi bahan tulisan AJP (Apreseasi Jurnalistik Pertamina) kamipun beristirahat sejenak di balai ekowisata Kampung Adat Malasigi.
Saat mengisi “kampung tengah” bersama warga dengan nasi kotak lauk ayam goreng kecap yang dibawa Pertamina EP Papua dari Kota Sorong. pandangan tertuju pada keripik pisang yang ada di atas meja.

Awalnya penulis mengira keripik pisang yang dikemas di dalam plastik itu bekal cemilan yang dibawa Pertamina EP Papua bersama nasi kotak yang telah disantap ramai-ramai, oh ternyata bukan karena setelah memegang kemasan keripik itu ternyata ada tulisan Keripik Pisang Belempe, yang berarti buatan lokal Kampung Malasigi.
“ Ini keripik pisang buatan mama-mama di sini (Malasigi, Red),”ujar Mba Yati, demikian Humas Pertamina EP Papua Field biasa disapa.
Mencicipi keripik pisang Belempe rasa manis hasil buatan mama-mama di Kampung Adat Malasigi, tekstur, warna dan rasanya tidak beda dengan keripik pisang lainnya yang biasa dijual di Supermarket atau di outlet lainnya.
“Keripik pisang ini kami bikin sendiri, kami ada kelompok namanya Pokdarus (kelompok sadar wisata). Hasil jualan kami kumpul masuk di kas kelompok,”tutur Bendahara Pokdarus Maryiam Asmuruf disela istirahat makan siang.

Dituturkan oleh Maryiam Asmuruf, mama-mama Kampung Malasigi yang tergabung dalam Pokdarus berjumlah sekitar 10 orang bisa membuat keripik pisang hasil pelatihan dari mahasiswa Unimuda Sorong, beberapa NGO lainnya, termasuk Pertamina EP Papua Field yang terus mensupport warga untuk memanfaatkan potensi pisang yang banyak di Kampung Adat Malasigi.
Atas dorongan dari Pertamina EP Papua Field yang menjadikan Kampung Adat Malasigi sebagai kampung binaan, menurut Maryiam Asmuruf, keripik pisang yang dijual Rp 20.000 per bungkus selain dipasarkan kepada para wisatawan yang berkunjung ke Kampung Adat Malasigi, juga sudah tembus sampai ke supermarket di Kabupaten Sorong.
“Kalau ada tamu (wisatawan) datang, kami jual, ya biasa laku. Jumlahnya tidak tentu, kadang laku satu, dua. Kadang juga ada yang borong. Kalau sudah habis baru kita bikin lagi,”tutur Maryiam Asmuruf.
Dikatakan, bahan yang digunakan untuk membuat keripik seperti pisang muda sangat banyak di Kampung Malasigi. Sedangkan bahan seperti minyak goreng dan lainnya dibeli di kota. Membuat keripik pisang tidaklah susah, karena menurut Maria Asmuruf, semua dikerjakan bersama-sama sehingga prosesnya juga cepat selesai.
“Yang penting pisangnya sudah dikupas, iris selesai,”tandasnya seraya memegang kemasan keripik pisang Belempe kemasan 250 gram. Karena menyesuaikan dengan tamu yang berkunjung ke Kampung Malasigi, keripik pisang yang diproduksi biasanya bisa sampai 20-30 bungkus.
Sebelum ada kegiatan membuat keripik pisang, Maryiam Asmuruf mengaku mama-mama di Kampung Adat Malasigi hanya mengurus rumah tangga dan Ia bersyukur banyak yang datang memberikan ilmu, mengajari warga termasuk mengolah pisang jadi keripik.
Ia pun menyampaikan terima kasih khusus kepada Pertamina EP Papua Field yang selama ini memberikan perhatian kepada warga untuk maju memiliki ketrampilan sehingga masyarakat bisa hidup lebih baik.
Hal senada juga disampaikan Kepala Kampung Adat Malasigi, Manase Fami. “Kami merasa ada perubahan yang luar biasa untuk kami yang ada di Kampung adat Malasigi. Dengan jalan Tuhan dapat uang dari orang lain, keluarga yang lain, maka kami sekarang seperti bapak ibu lihat,”ujar Menase Fami saat menerima rombongan media visit Pertamina EP Papua Field.

Dikatakan Menase Fami, sebelumnya masyarakat hidup secara alami dan fasilitas kampung seperti MCK dibangun dari hasil swadaya masyarakat. Kehadiran Pertamina EP Papua Field dengan program pemberdayaan masyarakat diakuinya membawa perubahan bagi masyarakat Kampung Adat Malasigi.
“Awal membangun kampung ini, kami berburu dengan hasil berburu kami membangun fasilitas yang ada di kampung seperti MCK. Terima kasih karena kedatangan bapak ibu (Pertamina EP Papua Field) telah membawa perubahan bagi kami, ”ujar Menase Fami.
Perubahan yang cukup besar dirasakan masyarakat pada tahun 2024 lalu dimana Pertamina EP Papua Field dalam CSR (Corporate Social Responsibility)-nya turut andil menjadikan Kampung Adat sebagai kampung binaan.
Tepatnya, dalam mendukung ekowisata di Kampung Adat Malasigi, sebagai perusahaan minyak dan gas yang beroperasi di wilayah Kabupaten Sorong, Pertamina Ep Papua Field melalui Program “Matahati Malasigi” mendorong masyarakat setempat untuk memanfaatkan lahan kosong untuk ditanami pohon pisang.

Seperti diketahui, pohon pisang (Musa spp) merupakan tumbuhan jenis herba yang tergolong dalam kelompok monokotil dengan masa panen 8-9 bulan usai masa tanam. Dipanen dan tumbuh berulang-ulang itulah yang menjadikan pisang di Kampung Adat Malasigi selalu tersedia.
Karena itulah Pertamina EP Papua Field berharap kebun pisang yang telah membuahkan hasil seperti keripik pisang Belempe dapat menjadi sumber tumbuhnya kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
“Melalui Program Matahati Malasigi, kami mendorong penguatan kapasitas masyarakat adat dalam mengelola hutan secara lestari melalui pengembangan ekowisata berkelanjutan. Program ini tidak hanya bertujuan menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga menciptakan alternatif sumber penghidupan yang lebih berkelanjutan, membuka lapangan kerja, meningkatkan keterampilan masyarakat, serta mendorong transformasi sosial dari aktivitas berburu dan meramu menuju penyediaan jasa lingkungan berbasis konservasi,”terang Field Manager Pertamina EP Papua Field, Ardi.
Memberdayakan masyarakat dalam mengelola potensi alam dan unit usaha secara mandiri secara berkelanjutan, Pertamina EP Papua Field juga membentuk Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Belempe.
Dalam media vist Pertamina EP Papua Field, saat jalan kaki menuju ke Kali Air Panas Belempe, Humas Pertamina EP Papua, Yati menunjukkan kebun pisang seluas 1 Ha yang dikelola masyarakat. Di depan kabun pisang itu ada plang bercat putih bertuliskan Kebun Pisang Belempe “Matahati Malasigi “ (masyarakat adat pengelola hutan lestari ) di Kampung Adat Malasigi”.
Kebun pisang Belempe Matahati Malasigi merupakan program pelibatan dan pengembangan masyarakat di bidang lingkungan yang dilaksanakan oleh SKK Mkigas dan Pertamina EP Papua.
“Pohon pisang di dalam itu (kebun-Red) banyak sekali. Sudah panen berkali-kali,”ujar Yoel Fami, tokoh pemuda Kampung Adat Malasigi seraya menunjuk kebun pisang yang dimaksud.
Hasil panen dari “Kebun Pisang Belempe”itulah yang diolah jadi keripik pisang oleh mama-mama di Kampung Adat Malasigi. Keripik pisang “Belempe” atau keripik pisang “Malasigi” telah dikemas bagus dengan mencantumkan rasa (original, manis dan balado) lengkap dengan komposisi bahannya.
Selain keripik pisang Belempe, Pertamina EP Papua dalam program Matahati Belempe juga mendorong masyarakat Kampung Malasigi untuk memanfaatkan potensi alam lainnya dengan membuat tas anyaman seperti noken untuk dijual.
Perhatian penuh yang diberikan kepada Kampung Adat Malasigi, menurut Field Manager Pertamuna EP Papua Field, Ardi, tidak lain agar dari program binaan yang dilaksanakan masyarakat setempat dapat mendukung kegiatan operasional PT Pertamina EP Papua Field di wilayah Kabupaten Sorong khususnya di Kampung Adat Malasigi.
Dikatakan oleh Ardi, di sekitar Kampung Adat Malasigi ada satu sumur eksplorasi yakni sumur Keimbu yang akan produksi tahun depan.
“Harapan kami dengan telah membuat program pemberdayaan masyarakat di Kampung Malasigi yang notabene dekat dengan wilayah operasi kita, nanti ikut membantulah. Istilahnya operasional kami juga didukung oleh masyarakat sekitar. Tidak ada komplain, tidak tuntutan dan sebagaianya. Bahkan kalau bisa kita bekerjasama lebih baik lagi pada saat sumur Keimbu kita operasikan tahun depan,”tutur Ardi.
Apreseasi untuk Pertamina EP Papua Field Papua
Anggota Komisi VII DPR RI Dapil Papua Barat Daya, Dr Rico Sia, M.Si memberikan apreseasi yang tinggi kepada PT Pertamina EP Papua Field yang telah berkontribusi membantu pemerintah dalam membangkitkan kampung wisata Malasigi Distrik Klayili Kabupaten Sorong, khususnya di sektor UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah).
Komisi VII DPR RI yang bermitra dengan UMKM, Rico Sia mengatakan saat turlap (turun lapangan) ke Dapilnya Papua Barat Daya, Ia kerap melaksanakan kegiatan pelatihan seperti ketrampilan menjahit pakaian, membuat kue dan lainnya dengan pesertanya adalah para pelaku UMKM di Kota dan Kabupaten Sorong
“Malasigi ini kan daerah wisata. Sektor pariwisatanya memang harus dikembangkan karena pariwisata maju tentunya akan menggerakkan sektor lainnya, seperti UMKM. Saya berharap, setelah masyarakat di Kampung Malasigi didorong bikin keripik pisang, pemasarannya juga harus dipikirkan sehingga terus berlanjut jadi produksi unggulan di Kampung Adat Malasigi,”ujar Rico Sia di Kota Sorong belum lama ini.
Soal akses jalan ke Kampung Adat Malasigi yang belum bagus, Rico Sia berharap Pemerintah Kabupaten Sorong memberikan perhatian penuh untukmemperbaiki jalan menuju Kampung Adat Malasigi yang belum beraspal sehingga makin banyak wisatawan yang berkunjung ke Kampung Adat Malasigi yang dihuni 13 kepala keluarga (KK)
Sementara itu Staf Ahli bidang kemasyarakatan Pemda Kabupaten Sorong, Marthen Nebore, S.Sos, M.Si juga menyampaikan terima kasih kepada Pertamina EP Papua Field yang telah berkontribusi memajukan Kampung Wisata Malasigi Distrik Klayili Kabupaten Sorong, khususnya dalam pengembangan UMKM.
“Perkembangan di Kampung Malasigi sangat baik, tadinya tidak ada apa-apa ya. Tapi setelah saya melihat adanya dukungan dari Pertamina, Kampung Malasigi sebagai kampung wisata semakin berkembang, ya tentunya kami sangat berterima kasih,”ujar Marthen Nebore yang mengaku belum lama mengunjungi Kampung Adat Malasigi.
Ia berharap kepada Pertamina EP Papua Field untuk terus membangun kolaborasi dengan masyarakat setempat dan pemerintah distrik maupun dengan Pemda Kabupaten Sorong, sehingga harapan membangun kemandirian ekonomi masyarakat di Kampung Adat Malasigi dapat terus berlanjut.
Sebagai kampung persiapan menuju kampung defintif, Marthen Nebore mengatakan, pembangunan secara umum di Kampung Adat Malasigi ditahani dinas terkait. Dan untuk perbaikan jalan menuju Kampung Adat Malasigi menurutnya ditangani Dinas Pekerjaan Umum (PU) secara bertahap.
Marthen Nebore juga mengaku setelah Kampung Adat Malasigi berhasil Dalma program pengembangan wisata berkelanjutan yang dibuktikan dengan dinobatkannya Kampung Wisata Adat Malasigi sebagai juara 1 kategori desa wisata rintisan dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 lalu, tingkat kunjungan wisatawan semakin meningkat.
“Untuk pengembangan UMKM di Malasigi, kami juga berharap tetap ditopang Pertamina dengan membantu masyarakat mendistribusikan hasil potensi lokalnya yang dibuat oleh masyarakat,”tandas Marthen Nebore. (Rosmini/SuaraSorong.com)







