SEBAGAI perusahaan operator minyak dan gas bumi yang berlokasi di Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, PT Pertamina EP Papua Field dalam inovasi energi terbarukan memiliki andil besar dalam kemajuan Kampung Adat Malasigi Distrik Klayili Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat Daya.
Menepi sejenak dari hiruk pikuk aktifitas di Kota Sorong, perjalanan menuju ke Kampung Malasigi Distrik Klayili Kabupaten Sorong, Senin, 27 Juli 2026 lalu sungguh menyenangkan. Bersama rombongan media visit Pertamina EP Papua, tawa dan canda sesekali terdengar di mobil Hilux bercat putih yang kami tumpangi.
Saat melewati Kota Baru Aimas Kabupaten Sorong, jalan raya yang dilewati masih mulus beraspal. Namun beberapa kilometer sebelum sampai di Kampung Malasigi, guncangan mobil hilux terasa cukup kuat karena melewati jalan rusak yang belum beraspal.

Jalan yang ‘bergelombang’ disertai dengan gundukan batu kerikil acap kali membuat sang sopir Hilux berhati-hati mengemudikan setirnya. Hal ini tentu menambah panjangnya waktu tempuh, dan setelah hampir 2 jam perjalanan dari Kota Sorong, kami pun tiba di Kampung Adat Malasigi.
Di jalan gerbang masuk Kampung Malasigi, ada gapura kayu bertuliskan Bahasa Moi dan Bahasa Inggris “ Welcome To Malasigi Customary Village”. Di depan gapura kayu itulah, warga sejak pagi bersiap untuk prosesi penyambutan.
Kedatangan rombongan media visit Pertamina EP Papua Field disambut dengan tarian adat Malamoi. Mengenakan pakaian adat Malamoi, masyarakat Kampung Adat Malasigi mulai dari anak-anak hingga orang tua semua tampak begitu tulus menyambut rombongan media visit Pertamina EP Papua.

Tarian adat diikuti nyanyian penyambutan terdengar nyaring memecah keheningan Kampung Adat Malasigi. Selain penyambutan warga yang begitu tulus, dalam kesan pertama menginjakkan kaki di Kampung Malasigi, kampungnya bersih dan tertata rapih. Ya, Malasigi memang beda dengan kampung lainnya di Kabupaten Sorong.

Jika beberapa tahun silam warga Kampung Malasigi masih menggunakan alat penerang sederhana, seperti dari obor berbahan dasar kayu damar dan lampu pelita, seiring berjalannya waktu, warga Malasigi beralih menggunakan genset berbahan bakar fosil. “Kita pakai genset dulu itu boros BBM dan harganya juga lumayan (mahal,Red),”ujar Yoel Fami, tokoh pemuda Malasigi.

Peduli dengan keterbatasan masyarakat Malasigi dalam pemenuhan kebutuhan mendasar, seperti air dan listrik, melalui program “Matahati Malasigi”, Pertamina EP Papua hadir, mentransformasi Kampung Adat Malasigi yang dihuni 13 Kepala Keluarga (KK).
Program “Matahati Malasigi” merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat adat dari Pertamina EP Papua di Kampung Adat Malasigi yang berfokus pada pengelolaan hutan lestari berbasis ekowisata.
Seperti diketahui, sebagai wilayah masyarakat adat suku Moi Kelim, Kampung Adat Malasigi memiliki potensi besar berupa kekayaan alam dan budaya, hanyasaja Malasigi masih menghadapi keterbatasan layanan dasar, terutama dalam penyediaan energi dan air bersih.
Kondisi aksesibilitas menuju kampung yang memerlukan kendaraan khusus seperti mobil Hilux, ketergantungan masyarakat pada genset berbahan bakar fosil dan sistem distribusi air menggunakan mesin pompa alkon (genset modifikasi), menyebabkan tingginya biaya operasional pembelian BBM, sekaligus menimbulkan potensi dampak lingkungan dari emisi karbon yang dihasilkan.
Karena itulah Pertamina EP Papua Field menerapkan inovasi revitaleaf yang memadukan energi hijau dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 8.700 watt dan Hydro B-Leaf Filter dari pelepah pisang, sehingga menciptakan solusi komprehensif terhadap masalah energi, air bersih, dan lingkungan.

“Inovasi revitaleaf ini dirancang untuk mengintegrasikan pemanfaatan PLTS sebagai sumber energi ramah lingkungan dengan pengolahan air bersih menggunakan limbah pelepah pisang sebagai media filtrasi alami. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada energi fosil, tetapi juga menerapkan konsep zero waste dengan memanfaatkan limbah organic dari sumber daya lokal yang mudah diperoleh dan berkelanjutan,”terang Field Manager Pertamina EP Papua Field, Ardi.

Dikatakan, dari aspek sosial, inovasi revitaleaf menempatkan masyarakat adat sebagai subjek utama pembangunan. Masyarakat dilibatkan secara aktif mulai dari tahap perencanaan, pembangunan, hingga pengelolaan sistem PLTS dan instalasi filter air bersih.
“Dari sisi green innovation, program ini memperkenalkan teknologi ramah lingkungan, antara lain pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 8.700 watt,”sebut Ardi.
Akses Energi Terbarukan dan Penghematan Biaya
Sebelumnya, listrik di Kampung Adat Malasihi masih mengandalkan bahan bakar fosil sebanyak 20L per hari. Melalui program (inovasi revitaleaf), masyarakat mendapatkan akses energi terbarukan dengan PLTS berkapasitas 8.700 watt yang melayani 20 bangunan rumah.
Kehadiran PLTS ini menurut Ardi, mampu menghemat biaya pembelian BBM untuk genset dan mesin alkon sebesar Rp 36.000.000/tahun. Yang sangat dirasakan oleh warga Kampung Malasigi, dengan hadirnya PLTS, listrik menyala 24 jam tanpa butuh biaya besar untuk membeli bahab bakar minyak.
“Kami terima kasih sekali kepada Pertamina, karena listrik sekarang menyala 24 jam. Biasanya kami nyalakan lampu itu dari jam 6 sore (18.00 Wit) bisa sampai pagi jam 06.30 Wit. Kalau dulu pakai genset, tidak sampai pagi listrik sudah padam,”tutur Yoel Fami.
Dikatakan Yoel Fami, listrik yang menyala 24 jam membuat masyarakat Kampung Malasigi lebih leluasa beraktifitas, termasuk anak-anak juga jadi nyaman belajar di malam hari. Alat-alat elekronik yang menggunakan listrik juga bisa digunakan. Mengandalkan PLTS yang disediakan Pertamina, Yoel mengakui tentunya listrik di Malasigi bergantung pada cuaca.
“Kalau cuaca bagus itu listrik menyala sampai pagi. Kalau hujan biasa kita tahan-tahan saja tapi kalau hujan terus ya kembali ke genset lagi dan cari BBM di kota,”tandas Yoel Fami. Untuk biaya BBM diakuinya dana yang digunakan merupakan swadaya masyarakat.
Selain butuh biaya BBM sekitar Rp 5 juta rupiah/bulan, Yoel mengakui menyalakan lampu dengan genset harus tahan dengan suara berisik dari genset. “Kalau bunyi genset yang ribut itu pasti ada,”ucapnya.
Saat mengunjungi gardu PLTS yang berjarak beberapa meter dari pusat ekowisata Malasigi, tokoh pemuda, Edison Fami yang dipercaya sebagai penanggungjawab PLTS mengatakan, kondisi gardu PLTS selama ini aman-aman saja.
Di Gardu PLTS ada papan bertuliskan “Desa Energi Berdikari Pertamina”, Program Desa Wisata Malasigi”. Meski ada burung-burung kecil yang kadang hinggap di sarana PLTS , namun tidak sampai menyebabkan listrik padam.
Field Manager Pertamina EP Papua, Ardi lebih lanjut menjekaskan, inovasi energi terbarukan yang diterapkan di Kampung Adat Malasihi tidak hanya menjawab keterbatasan infrastruktur dasar masyarakat adat, tetapi juga menjadi model pemanfaatan sumber daya lokal yang berkelanjutan.
“Selain itu, program ini juga mengedepankan pendekatan ekosistem (ecosystem services) dengan mendukung aktivitas ekowisata minat khusus sebagai strategi ekonomi sekaligus instrumen konservasi,”tandasnya.
Kampung adat pertama yang memiliki modul terkait Green Energy
Modul Green Energy Kampung Adat Malasigi menggambarkan upaya penanganan persoalan mendasar yang selama ini menjadi tantangan utama di Distrik Klayili, khususnya di Kampung Adat Malasigi, melalui penerapan dua inovasi hijau yang memanfaatkan potensi sumber daya lokal.
Energi bersih yang dihasilkan dari PLTS dimanfaatkan sebagai sumber daya listrik untuk mengoperasikan pompa dalam program penyediaan air bersih di Kampung Malasigi.
Peningkatan Kapasitas SDM
Program ini juga menekankan peningkatan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan dan perawatan PLTS agar berkelanjutan sebagai sumber energi pada inovasi revitaleaf. Edison Fami, sebagai pemuda dari kelompok pengelola PLTS di Kampung Malasigi telah mengikuti sertifikasi kompetensi operator PLTS yang diselenggarakan oleh kementerian ESDM RI.
Edison juga membagikan pengalaman sertifikasi kompetensi operator PLTS kepada masyarakat Malasigi agar ada pemerataan pengetahuan terkait energi terbarukan ini. “Tangani PLTS ini yang penting bisa pelihara dengan baik, dan syukur Pertamina bisa ajak kami masyarakat untuk terlibat langsung. Kalau ada apa-apa, kami bisa langsung atasi,”tandas Edison Fami.
Dari “Habis Gelap Terbitlah Terang”, itulah salah satu transformasi yang mengantarkan Kampung Adat Malasigi meraih juara I Nasional Kategori Desa Wisata Rintisan pada ajang Anugera Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 lalu yang digelar Kementerian Pariwisata RI.
Bupati Sorong melalui Staf Ahli Bidang Kemasyarakat Setda Kabupaten Sorong, Marthen Nebore, S.Sos, M.Si begitu berbinar-binar ketika disinggung soal Kampung Adat Malasigi. Bagaimana tidak, setelah menyabet prestasti sebagai juara I Nasional Kategori Desa Wisata Rintisan, Kampung Malasigi kini merupakan kampung primadona Kabupaten Sorong.

“Beberapa Minggu lalu saya ada di Malasigi dan saya melihat Kampung Malasigi begitu berkembang. Tadinya tidak ada apa-apa, tapi setelah saya melihat ada dukungan dari Pertamina EP Papua, ya kami sangat berterima kasih.
“Saya menyampaikan apreseasi kepada Pertamina EP Papua yang sudah membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan listrik. Karena memang kalau menggunakan genset itu kita butuh biaya banyak. Bisa hampir setiap hari beli minyak (BBM,red). Dengan kondisi yang ada sekarang ini (efisiensi anggaran) Pertamina telah membantu menyiapkan PLTS ini, artinya tidak menggunakan lagi anggaran daerah atau anggaran kampung, dan itu sangat membantu kami. Sudah ada listrik langsung dari panas surya, malamnya bisa dinyalakan jadi listrik kampung,”ujar Marthen Nebore.
Terkait peran Pemda Kabupaten Sorong dalam memajukan Kampung Adat Malasigi, Marthen Nebore mengatakan, karena statusnya masih sebagai kampung persiapan, untuk pembangunan di Malasigi ditangani organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
“Saat ini kami masih persiapan untuk menjadikan Malasigi sebagai kampung definitif. Kalau sudah jadi kampung definitif, ada dasar hukumnya maka Malasigi bisa diajukan untuk mendapatkan dana desa. Jadi kami pemerintah mendorong Malasigi melalui OPD teknis terkait, seperti Dinas Perumahan, Dinas PU untuk pembangunan jalan,”terang Marthen Nebore. (rosmini/suarasorong.com)





