Julian Kelly Kambu, ST, M.Si : Jadi Model Untuk Diperluas dalam Memerangi Sampah di Kota dan Kabupaten Sorong
SORONG– Setelah melakukan kunjungan ke PT Petrogas (basin) Ltd, Kepala Dinas (Kadis) Lingkungam Hiduip (LH) Provinsi Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu, ST, M.Si mengatakan, selain menilai PT Petrogas sangat patuh dengan aspek pengelolaan lingkungan , Ia juga memberikan apreseasi kepada PT Petrogas dalam memberdayakan masyarakat lokal mengelola sampah organik.

“Sampah sayur dari dapur dan warung di sekitar diolah menjadi kompos, yang kemudian dijadikan pupuk cair. Pupuk ini diberikan secara gratis kepada masyarakat di Pulau Kasim untuk menyuburkan tanaman seperti kacang panjang, kol, sawi, dan tomat,”tutur Kadis LH Papua Barat Daya, Kelly Kambu kepada media ini di ruang kerjanya, Jumat (27/2/2026).

Sebelumnya, terang Kelly Kambu, masyarakat menggunakan pestisida (bahan kimia), tetapi kini mereka sudah beralih ke pupuk cair.
Dan ternyata kualitas hasil pertanian dengan menggunakan pupuk cair yang dihasilkan sama baiknya, bahkan dinilai membuat tanaman jadi sangat subur. Dan sangat positif karena sayuran yang dihasilkan masyarakar tersebut kembali disuplai oleh Petrogas.
“Laporan dari masyarakat menunjukkan dampak positif yang tidak hanya dirasakan di Petrogas, tetapi juga sampai ke Kilang dan JOB Salawati,”ujar Kelly Kambu.
Lebih lanjut, Kadis LH PBD mengatakan, model pengelolaan lingkungan yang baik yang diterapkan oleh perusahaan migas Petrogas dapat diperluas untuk mengurangi sampah di Kota dan Kabupaten Sorong.
“Dan kami berencana untuk masuk ke sekolah-sekolah memberikan edukasi dan mengelola sampah dari pasar, yang jika dikelola dengan baik, dapat menjadi sumber ekonomi,”tandasnya.
Selain itu dalam memerangi sampah di Papua Barat Daya, Kadis LH PBD juga mengatakan, pihaknya dari pemerintah provinsi akan mengundang bupati, wali kota, kepala badan keuangan, Bapeda, dan Dinas Lingkungan Hidup untuk rapat koordinasi membahas masalah, kendala, solusi, dan rencana terkait pengelolaan sampah.
Menurutnya, hal ini penting untuk mengintervensi isu-isu yang menjadi kewenangan kabupaten, kota, provinsi, dan pusat.
“Penyampaian dari Bapak Mendagri menegaskan bahwa tidak boleh ada open dumping. Ke depan, akan ada penegakan hukum terhadap TPA (tempat pembuangan akhir) sampah yang bersifat open dumping. Di Tanah Papua, sistem ini masih banyak diterapkan, sehingga kepala daerah harus bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah sampah,”tegasnya kemudian.
Dikatakan, masyarakat menerima pengelolaan sampah ini sebagai solusi, karena mereka tidak perlu lagi membeli pupuk. Dengan perlakuan kompos, pupuk cair dibagikan secara gratis.
“Meskipun sumber bahan baku di lokasi terbatas, kami percaya pengelolaan di kota yang lebih besar akan lebih efektif. Kami sudah menyampaikan kepada manajemen Petrogas untuk kolaborasi dalam program CSR Petrogas,”ungkap Kelly Kambu yang kerap disapa pace lingkungan.
Dalam konsennya mengelola sampah, ke depan, Ia mengatakan akan membangun komunikasi dengan SKK Migas dan semua mitra perusahaan lainnya untuk mencari solusi pengelolaan sampah.
Yang kemudian pada akhirnya masyarakat mendapatkan nilai ekonomis dari pengelolaan sampah tersebut.
“Kami ingin memberdayakan masyarakat agar mereka memperoleh nilai ekonomi dari mengelola sampah. Tidak cukup dengan kegiatan bersih-bersih rutin, jika hasilnya tetap menjadi gunung sampah di TPA yang berisiko terbakar akibat gas metana, yang berdampak pada perubahan iklim,”terangnya.
Karena itu Ia berharap masyarakat dapat bergerak bersama pemerintah. Penyelesaian sampah harus dimulai dari tingkat rumah tangga dengan memilah sampah dari dapur. Dikatakan, ibu-ibu rumah tangga harus didorong untuk memilah sampah dan diajarkan cara membuat kompos untuk pupuk cair yang bisa dipakai menyiram tanaman di halaman mereka.
“Kami akan melakukan edukasi dan menganggarkan dana untuk kampanye dan komunikasi dengan masyarakat agar pemahaman mengenai manfaat sampah dapat meningkat. Jika masyarakat menyadari bahwa sampah bisa menjadi sumber nilai dan uang, mereka akan berlomba-lomba untuk mengelolanya, baik melalui komposter untuk pupuk cair atau menggunakan magot,”pungkas Kelly Kambu yang sebelumnya menjelaskan banyak hal tentang pengelolaan sampah dengan menggunakan magot (larva dari lalat Black Soldier Fly/BSF). (min)






