SORONG– Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 atau Idul Kurban, perhatian tertuju pada sapi-sapi kurban yang dimiliki para peternak lokal di Provinsi Papua Barat Daya.

Tidak terkecuali peternak Sismulyono yang memiliki peternakan sapi di Jln Mambruk Unit 2 Aimas Kabupaten Sorong.
Didatangi drh M.M Firdiana Krisnaningsih untuk menyuntik sapi ternaknya, Sismulyono tampak begitu gembira menyambut dokter hewan cantik itu.

Saat drh Firdiana menuju ke kandang dengan melewati jalan yang sedikit pecek, dari kejauhan, Sismulyono yang mengenakan kaos hijau sudah menunggu di depan kandang sapinya.
Dengan wajah sumringah, Sismulyono pun mendampingi drh Firdina melihat-lihat sapinya untuk memilih sapi mana yang akan disuntik multivitamin.
Melihat sapinya yang berderet di kandangnya semua adalah sapi-sapi unggulan, Sismulyono tampaknya merupakan salah satu peternak sukses di Kabupaten Sorong.
Ia menyebut sapi ternaknya saat ini berjumlah 35 ekor dengan harga rata-rata berkisar Rp 17 juta hingga Rp 25 juta.
Sapi ternak milik Mulyono semuanya adalah Sapi Bali jenis super seperti sapi metal, limosin dan sapi Brahman. Diungkapkan dari sapi super yang dimiliki, yang termahal adalah sapi metal dimana dengan bobot diatas 9 kwintal (900 Kg) dijual Rp 75 juta hingga Rp 80 juta.
Dituturkan Sismulyono, 10 tahun sebagai peternak sapi selama ini Ia belum pernah menerima bantuan dari pemerintah apakah itu bantun sapi dari presiden ataupun bantuan lainnya.
Semuanya dikelola secara swadaya. Meski belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah namu tidak mengurangi semangat Sismulyono. Berkat ketekunan dan keyakinannya usaha peternakan sapi sangat menjanjikan membuat tahun-tahun lalu Ia begitu bersemangat melakoni usahanya.
Apalagi menjelang Hari Raya Idul Adha seperti saat ini dimana tahun-tahun lalu, Ia bisa menjual 25-30 ekor sapi. ”Itu tahun-tahun lalu sebelum sapi luar masuk, tapi sekarang, sangat menurun, saat ini saja saya baru mengeluarkan (menjual, Red) 7 ekor saja,”tutur Mulyono.
Masukny sapi dari luar Sorong menjelang Hari Raya Idul Adha diakui oleh Sismulyono sangat mempengaruhi penjualan sapinya yang semakin sepi.
“Menjelang lebaran ini (Idul Kurban, Red) peminatnya agak kurang. Karena ada stok sapi dari luar datang, Jadi sapi lokal berkurang peminatnya,”tutur Mulyono.
“Tahun-tahun lalu kalau tidak ada sapi dari luar datang itu kita bisa mengeluarkan diantara 25-30 ekor sapi, sekarang saja saya baru mengeluarkan 7 ekor saja,”imbuhnya.
Diakui Sismulyono, adanya sapi luar masuk ke Sorong menjelang Hari Raya Idul Kurban sangat mematikan pasar petenak lokal. Dikatakan, bisa saja sapi luar masuk Sorong, tapi jangan pada saat momen mendekati Hari Raya Idul Kurban.
“Keluhan kami memang disitu, setiap tahun itu kenapa kok setiap mau lebaran haji itu pasti ada sapi dari luar datang. Bolehlah mendatangkan sapi dari luar tapi jangan momen-momen mau Lebaran Haji, Hari Raya Idul Fitri itu ngga apa-apa. Jadi kasilah kesempatan kepada peternak lokal seperti kami ini,”ujar Mulyono. Lesunya pembeli menjelang Hari Raya Idul Kurban, membuat sapi-sapi super miliknya ada yang sudah 5 tahun belum terjual.
Untuk mengembangkan usaha peternakannya, Mulyono berharap mendapat bantuan modal dari pemerintah, selain itu Ia juga berharap sapi-sapi supernya dibeli pemerintah untuk dikurbankan di Hari Raya Idul Adha.
Sementara peternak lainnya, Muhammad Roji yang beternak 4 tahun memiliki 11 ekor sapi. Diakuinya, setiap tahun menjelang Hari Raya Idul Kurban, sapi yang terjual 2 ekor. “Tapi untuk tahun ini karena lagi kosong, tidak ada yang bis akita kasi keluar (jual),”ujarnya. Untuk harga sapi Bali biasa dijual hingga Rp 25 juta.
Selain sapi lokal, Roji juga memiliki sapi hasil IB (inseminasi buatan). Untuk sapi hasil kawin suntik ini diakuinya kendala yang dihadapi ,bibit IB sangat terbatas,
“Kami berharap agar bibit IB itu disiapkanlah karena kadang-kadnag warga peternak, apalagi seperti musim haji begini, kebanyakan sapi jantan yang besar kan dipotong untuk Lebaran Kurban saat musim kawin, sapi pejantannya tidak ada. Karena itu mau tidak mau peternak minta inseminasi buatan,”ujar Roji. (min)
Jelang Idul Kurban, Peternak Sapi Lokal di Papua Barat Daya “Menjerit”,
MENJELANG Hari Raya Idul Adha atau Idul Kurban, perhatian tertuju pada sapi-sapi kurban yang dimiliki para peternak lokal di Provinsi Papua Barat Daya. Tidak terkecuali peternak Sismulyono yang memiliki peternakan sapi di Jln Mambruk Unit 2 Aimas Kabupaten Sorong.
Saat didatangi drh M.M Firdiana Krisnaningsih untuk menyuntik sapi ternaknya, Sismulyono tampak begitu gembira menyambut dokter hewan cantik itu. Saat drh Firdiana menuju ke kandang dengan melewati jalan yang sedikit pecek, dari kejauhan, Sismulyono yang mengenakan kaos hijau menunggu di depan kandang sapinya. Dengan wajah sumringah, Mulyono pun mendampingi drh Firdina melihat-lihat sapinya untuk memilih sapi mana yang akan disuntik multivitamin.
Melihat sapinya yang berderet di kandangnya semua adalah sapi-sapi unggulan, Mulyono tampaknya merupakan salah satu peternak sukses di Kabupaten Sorong. Ia menyebut sapi ternaknya saat ini berjumlah 35 ekor dengan harga rata-rata berkisar Rp 17 juta hingga Rp 25 juta.
Sapi ternak milik Mulyono semuanya adalah Sapi Bali jenis super seperti sapi metal, limosin dan sapi Brahman. Diungkapkan dari sapi super yang dimiliki, yang termahal adalah sapi metal dimana dengan bobot diatas 9 kwintal (900 Kg) dijual Rp 75 juta hingga Rp 80 juta.
Dituturkan Mulyono, 10 tahun sebagai peternak sapi selama ini Ia belum pernah menerima bantuan dari pemerintah apakah itu bantun sapi dari presiden ataupun bantuan lainnya. Semuanya dikelola secara swadaya. Meski belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah namu tidak mengurangi semangat Mulyono. Berkat ketekunan dan keyakinannya usaha peternakan sapi sangat menjanjikan membuat tahun-tahun lalu Ia begitu bersemangat melakoni usahanya.
Apalagi menjelang Hari Raya Idul Adha seperti saat ini dimana tahun-tahun lalu, Ia bisa menjual 25-30 ekor sapi. ”Itu tahun-tahun lalu sebelum sapi luar masuk, tapi sekarang, sangat menurun, saat ini saja saya baru mengeluarkan (menjual, Red) 7 ekor saja,”tutur Mulyono.
Masukny sapi dari luar Sorong menjelang Hari Raya Idul Adha diakui oleh Mulyono sangat mempengaruhi penjualan sapinya yang semakin sepi. “Menjelang lebaran ini (Idul Kurban, Red) peminatnya agak kurang. Karena ada stok sapi dari luar datang, Jadi sapi lokal berkurang peminatnya,”tutur Mulyono. “Tahun-tahun lalu kalau tidak ada sapi dari luar datang itu kita bisa mengeluarkan diantara 25-30 ekor sapi, sekarang saja saya baru mengeluarkan 7 ekor saja,”ujarnya.
Diakui Mulyono, adanya sapi luar masuk ke Sorong menjelang Hari Raya Idul Kurban sangat mematikan pasar petenak lokal. Dikatakan, bisa saja sapi luar masuk Sorong, tapi jangan pada saat momen mendekati Hari Raya Idul Kurban.
“Keluhan kami memang disitu, setiap tahun itu kenapa kok setiap mau lebaran haji itu pasti ada sapi dari luar datang. Bolehlah mendatangkan sapi dari luar tapi jangan momen-momen mau Lebaran Haji, Hari Raya Idul Fitri itu ngga apa-apa. Jadi kasilah kesempatan kepada peternak lokal seperti kami ini,”ujar Mulyono. Lesunya pembeli menjelang Hari Raya Idul Kurban, membuat sapi-sapi super miliknya ada yang sudah 5 tahun belum terjual.
Untuk mengembangkan usaha peternakannya, Mulyono berharap mendapat bantuan modal dari pemerintah, selain itu Ia juga berharap sapi-sapi supernya dibeli pemerintah untuk dikurbankan di Hari Raya Idul Adha.
Sementara peternak lainnya, Muhammad Roji yang beternak 4 tahun memiliki 11 ekor sapi. Diakuinya, setiap tahun menjelang Hari Raya Idul Kurban, sapi yang terjual 2 ekor. “Tapi untuk tahun ini karena lagi kosong, tidak ada yang bis akita kasi keluar (jual),”ujarnya. Untuk harga sapi Bali biasa dijual hingga Rp 25 juta.
Selain sapi lokal, Roji juga memiliki sapi hasil IB (inseminasi buatan). Untuk sapi hasil kawin suntik ini diakuinya kendala yang dihadapi ,bibit IB sangat terbatas,
“Kami berharap agar bibit IB itu disiapkanlah karena kadang-kadnag warga peternak, apalagi seperti musim haji begini, kebanyakan sapi jantan yang besar kan dipotong untuk Lebaran Kurban saat musim kawin, sapi pejantannya tidak ada. Karena itu mau tidak mau peternak minta inseminasi buatan,”pungkas Roji. (min)






