4 Tahun, 57 Ekor Ikan Hiu Belimbing Dilepas di Laut Raja Ampat, Gubernur Elisa Kambu Terkagum-Kagum

SORONG– Gubernur  Papua Barat Daya, Elisa Kambu memberikan apreseasi yang tinggi kepada pengelola konservasi Ikan Hiu Belimbing yang telah mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan habitat Ikan Hiu Belimbing di perairan Raja Ampat.

Hal ini disampaikan Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu kepada media usai melepas Ikan Hiu Belimbing di Perairan Pulau Kri, Yenbuba Meos Mansar, Kabupaten Raja Ampat, Rabu,  21 Januari 2026.

Gubernur PBD Elisa Kambu saat melepas Ikan Hiu Belimbing di Pulau Kri Raja Ampat. (Rosmini/SuaraSorong.com)

Melalui proses pembiakan yang panjang, Ikan Hiu Belimbing yang dilepas oleh Gubernur Papua Barat Daya merupakan ikan Hiu nomo 57. Dengan demikian sampai  sejak tahun tahun 2022, sampai saat ini, sudah ada 57 ekor Ikan Hiu Belimbing yang dilepas di Perairan Raja Ampat.

Proses pembiakan Ikan Hiu Belimbing di Pulai Kri Raja Ampat. (Rosmini/SuaraSorong.com)

“Hari ini yang kita lepas nomor 57, jadi yang sudah dilepas ada 57 ekor,”ungkap pengelola Ikan Hiu Belimbing kepada Gubernur Papua Barat Daya saat meninjau penangkaran Ikan Hiu Belimbing di Pulau Krei Raja Ampat.

Gubernur Elisa Kambu pose bersama usai melepas Ikan Hiu Belimbing di Pulau Kri Raja Ampat. (Rosmini/SuaraSorong.com)

Habitat Ikan Hiu Belimbing sudah langka di Indonesia khususnya di Raja Ampat. Karena itu Konservasi Indonesia melalui mitranya, pemerhati Ikan Hiu Belimbing mendatangkan telur Ikan Hiu Belimbing dari luar negeri seperrti dari Amerika, Australia untuk ditetaskan dan dikembangbiakkan di laut Raja Ampat.

“Puji Tuhan ya kalau kita ikut kronologis tadi cukup panjang ya. Oleh teman-teman konservasi dan pemerhati ada gagasan untuk  ini bisa mengembangbiakkan dan ini mengimport. Telurnya dari luar negeri. Dalam  perjalanan yang panjang, dalam perjuangan yang panjang, perjuangan yang luar biasa, kerja keras. Proses awal  memang cukup lama, dan puji Tuhan,  tahun 2022 yang lalu berhasil untuk pertama kalinya, telur itu tiba di Sorong,”tutur Gubernur.

“Saya terkagum-kagum lah,  bahwa kita ini jalan biasa, tapi masih ada putera puteri bangsa yang ingin mendedikasikan hidupnya untuk bisa ikut bertanggung jawab untuk bagaimana  caranya ikan Hiu ini tetap ada di Indonesia dan lebih khusus di perairan Raja Ampat,”imbuh Elisa Kambu.

Dikatakan oleh gubernur, Raja Ampat saat ini telah menjadi destinasi wisata kelas dunia, baik bagi wisatawan mancanegara maupun domestik. Dimana sebagian besar wisatawan datang untuk menyelam dan menikmati keindahan bawah laut.

“Bagi penyelam, ada dua hal utama yang ingin dilihat. Pertama, terumbu karang sebagai tempat hidup ikan. Kedua, keanekaragaman biota laut. Kehadiran hiu belimbing ini tentu memperkaya daya tarik wisata Raja Ampat,”ujar Elisa Kambu.

Atas nama Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dan secara pribadi, Elisa Kambu menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam upaya konservasi tersebut. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, untuk bersama-sama menjaga kelestarian laut Raja Ampat.

Gubernur mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas penangkapan ikan yang merusak, seperti penggunaan bom atau membuang sampah ke laut.

Selain itu, ia meminta nelayan maupun masyarakat yang tidak sengaja menangkap hiu atau biota laut dilindungi agar dapat mengembalikannya ke laut.

“Hanya dengan cara itulah kita bisa menjaga keaslian dan keindahan Raja Ampat yang sudah menjadi idola dunia. Raja Ampat ada di Papua Barat Daya, maka sebagai warga Papua Barat Daya, khususnya Raja Ampat, kita patut bangga sekaligus berkewajiban menjaganya bersama-sama,”tandas gubernur dengan pakaian basah usai melepas Ikan Hiu Belimbing di laut Pulau Kri, Raja Ampat.

Seperti disampaikan oleh pengelola Ikan Hiu Belimbing, telur Ikan Hiu Belimbing yang didatangkan dari luar negeri, seperti dari Amerika melalui perjalanan yang panjang, sekitar 40 jam di dalam box.

“Ke Jakarta transit dulu sehari, sambil kita mengurus surat-surat domestiknya ke Sorong. Sampai Sorong naik kapal ke sini (Pulai Kri), itu biasa menetasnya beda-beda, tergantung  berapa besarnya embrionya di dalam. Biasa butuh 110 sampai 150 hari sebelum dia menetas,”tutur pengeloa Ikan Hiu Belimbing.

Setelah menetas,  hampir 4 bulan baru dilepas ke laut Raja Ampat. “Tapi di sini (Raja Ampat) cepat menetasnya, karena  hangat airnya,”tandas wanit yang mewakili pengelola Ikan Hiu Belimbing.

“Karena lingkungannya, airnya bersih, yang rawat, hatinya juga,”timpal Gubernur Elisa Kambu dalam percakapan saat menanyakan proses pembiakan Ikan Hiu Belimbing di Pulau Kri.

Telur Ikan Hiu Belimbing yang didatangkan didapatkan dari aquarium yang ada di luar negeri, seperti di Amerika dan Australia. Saat baru menetas, panjang ekor Ikan Hiu Belimbing berkisar 20 Cm-30 Cm.

Dalam proses pembiakan, anakan Ikan Hiu Belimbing diberi makan seperi kerang. bia dan pertumbuhannya cukup cepat. Setiap  minggu dilakukan pengukuran.

Dituturkan oleh pengelola, awalnya Ikan Hiu Belimbing berasa dari Raja Ampat, namun karena populasinya semakin terbatas maka dilakukanlah program pembiakan untuk merepopulasi kembali Ikan Hiu Belimbing di Laut Raja Ampat. (min)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.