SORONG- Merespon antrian panjang bahan bakar minyak (BBM) di semua SPBU yang ada di Kota dan Kabupaten Sorong, Pimpinan dan lintas Komisi DPR Kota (DPRK) Sorong mendatangi Kantor Depot (Field Terminal) Pertamina Sorong di kawasan Kuda Laut, Senin siang (3/8/2026).

Rombongan DPR Kota Sorong dipimpin Ketua Drs Ec John Lewerissa tiba di Kantor Depot sekitar pukul 14.00 Wit. Kedatangan pimpinan dan anggota DPRK Sorong diterima Field Terminal Manager Sorong PT Pertamina Patra Niaga Regional Papua dan Maluku di lobi Kantor Field Terminal Sorong.

. Usai Ketua DPRK John Lewerissa menyampaikan maksud kedatangannya, Rachmad Kundoro dengan posisi berdiri di lobi langsung memberikan penjelasan terkait stok BBM.
Merasa tidak nyaman dengan penerimaan dari Field Terminal Manager Sorong membuat beberapa anggota Dewan pun langsung bereaksi. Setelah itu baruiah Rachmad Kuncoro mempersilakan pimpinan dan anggota Dewan menuju ke ruangannya.
Dalam pertemuan menyoroti antrian panjang BBM di Sorong, satu persatu pimpinan dan anggota Dewan angkat bicara dengan mencecar Pertamina dengan sejumlah pertanyaan. “Panjang sekali antrian dan itu terjadi di hampir semua SPBU,”ujar Jhon Lewerissa.
Panjangnya antrian kendaraan di SPBU Km 16 diungkapkan Jonas Malibela yang mengatakan bahwa antrian BBM itu di dekat Markas Marinir. “Kenapa semua terjadi hal yang sama begitu,”tanya Ketua DPRK Jhon Lewerissa lagi.
Awalnya penjelasan disampaikan oleh perwakilan Pertaminan yang membawahi SPBU-SPBU bahwa terjadi penumpukan kendaraan dalam 3 hari terakhir karena tingginya permintaan dari truk=truk dan angkutan barang.
“Tadi pagi tim kami sudah memitigasi dan menambah stok. Jadi yang bisa kami temu di lapangan karena meningkatnya permintaan dari truk,”ujarnya.
Alasan yang disampaikan karena tingginya permintaan BBM dari truk tidak membuat pimpinan dan anggota DPRK Sorong menerima begitu saja.
“Tapi hari Sabtu itu jam 12.00 itu stok BBM sudah tidak ada, hari Minggu kemarin juga begitu,”ujar anggota James Nixon Senewe.
“Yang bapak liat sekarang kan kondisi yang terjadi, minimal isu di lapangan yang bapak lihat itu seperti apa. Kita datang tanya ini, bapak menyampaikan itu yang terjadi di lapangan. Kita belum turun ke lapangan ini, kita mau tanya bapak dulu. Bapak punya isu di lapangan seperti apa, bagaimana mengantusipasinya itu jadi bahan untuk kita turun ke lapangan menyampaikan kepada masyarakat, jadi jangan sampai salah menyampaikan hal ini, nanti jadi boomerang untuk kami jadi tolong pak, ”cecar anggota Dewan Joungky Soisa dengan nada tinggi.
Jhon Lewerissa kembali mengatakan bahwa yang terjadi memang tidak rasional, karena motor saja antriannya sangat panjang, sehingga dugaan ada sesuat dibalik antrian panjang kedaraan di semua SPBU.
“Sekarang ini masyarakat resah akibat panjangnya antrian itu. Kita mesti bagaimana supaya antrian tidak ada, nah itu solusinya bapak bagaimana menyelesaikan itu sehingga kita turun juga bisa menyelesaikan di lapangan,”tandas Joungky Soissa lagi.
Anggota Dewan Nuryadi mengatakan kejadian seperti ini baru pertama kali terjadi sejak Ia tinggal di Sorong. Dikatakan, di SPBU Hansen, Pertamax saja antriannya begitu panjang sampai di Mapolresta.
“Tadi alasannya karena truk, tidak ada pertambahan truk di Kota Sorong, itu-itu saja yang anri tiap hari. Tiap hari mereka antri di SPBU depan Hansen. Yang lebih parah lagi, motor antri untuk Pertamax itu sampai di jembatan , ada apa?. Apakah ada regulasi yang berubah atau bagaimana?. Pertanyaan saya lebih mendasar, apakah bapak mampu menyelesaikan barang ini dalam 1 hari ini dan besok dipastikan tidak ada lagi yang antri,”ujarnya.,
Pernyataan cukup keras disampaikan oleh Wakil Ketua II, Ricky Taneri yang mengatakan jika tidak mampu menyelesaikan masalah BBM ini lebih baik mundur. Ricky Taneri mengatakan, rombongan pimpinan dan anggota DPRK Sorong datang ke Depot Pertamina untuk mengetahui penyebab antrian di SPBU.
“Kalau sudah tahu masalahnya tolong disampaikan kepada kita. Jangan lempar “bola”. Kalau permasalahan itu dari sistem karena terlambat dan lain-lain, itu dari sistem. kalau SPBU yang salah pertanyaan kami adalah apa sanksinya. Kalau cuma ha..hi..ha..hi saja sampai detik ini semua Maxim itu mereka kasi naik harga hari ini,”ujar Ricky Taneri.
Dalam hal ini, jika Pertamina salah maka dampaknya sangat panjang dirasakan masyarakat.
Dikesempatan tersebut, Ricky Taneri juga menanyakan apakah benar pihak Samsat dan Kepolsian datang ke SPBU terkait pelunasan pajak kendaraan sebagaimana yang beredar. . Kalau pertanyaan ini benar. Ricky Taneri pun menanyakan kepada pihak Pertamina , apakah itu dibolehkan secara hukum.
“Kan itu lembaga terpisah, kok tiba-tiba ada sanksi kalau tidak bayar pajak tidak boleh isi bensin,”tanya Ricky Taneri.
Saat pertemuan berlangsung, hadir Sales Area Manager Papua Barat dan Papua Barat Daya PT Pertamina Patra Niaga, Arif R Hakim yang kemudian memberikan penjelasan terkait stok BBM yang menurutnya aman.
Usai mendatangi Depot Pertamina, rombongan pimpinan dan anggota DPRK Sorong pun meninjau SPBU dalam beberapa kelompok sesuai komisi di DPR Kota Sorong.
Ketua Komisi IV DPR Kota Sorong, Saman Bugis.mengatakan bahwa apa yang disampaikan pimpinan Pertamina saat mendatangi Depot Pertamina sama dengan keterangan di SPBU Sorpus yang dikunjungi. (min)






