JAKARTA– Setelah Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong naik status jadi Bandara Internasional pada 17 Agustus 2025, Provinsi Papua Barat Daya makin dilirik para wisatawan domestik maupun mancanegara.

Seiring dengan peningkatan status Bandara DEO Sorong jadi Bandara internasional, anggota Komisi VII DPR RI Dr Rico Sia, M.Si dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi VII DPR RI dengan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Senin (17/11/2025) angkat suara memperjuangkan Bandara DEO Sorong ditingkatkan sebagaimana laiknya Bandara Internasional.
“Papua Barat Daya sekarang memang sudah sangat dikenal, khususnya daerah wisata Raja Ampat yang meningkatkan wisatawan, baik domestik maupun macanegara,” ujar Rico Sia di sela Rapat Kerja Komisi VII DPR dengan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Senin (17/11/2025).
Sebagai Wakil rakyat dari Dapil Papua Barat Daya, Rico Sia mengatakan Bandara DEO Papua Barat Daya yang sudah berstatus bandara international sangat membutuhkan perluasan dan beberapa perbaikan di beberapa bagian. Mulai dari panjangnya landasan pacu (runway), hingga terminal kedatangan dan pemberangkatan.
“Memang menjadi tugas dari pemerintah untuk membebaskan lahan, dan saya coba mengusulkan supaya pemerintah daerah bisa menyediakan lahannya. Saya percaya pemerintah pasti menyiapkan lahan, karena ini adalah pengembangan wilayah,”ujar Rico Sia, legislator 2 periode dari Partai Nasdem.
Dengan diperluasnya Bandara Domine Eduard Osok diharapkan adanya peningkatan kedatangan wisatawan luar negeri bisa langsung mendarat di Papua Barat Daya.
“Ini tentu akan memotong jarak, membuat mereka yang punya waktu libur tidak terlalu panjang bisa langsung ke daerah-daerah destinasi wisata. Ini bukan hanya untuk Papua Barat Daya, tetapi untuk skala nasional atau daerah lain di Indonesia,” jelas Rico.
Lebih lanjut Rico Sia meyakini Presiden Prabowo tentu sangat concern dengan pariwisata, karena wisata menjadi salah satu sektor yang bisa menghasilkan pendapatan nasional yang nilainya jauh lebih tinggi daripada sektor pertambangan dan yang lainnya.
“Untuk mengembangkan wisata ini, tentunya koneksitas antarwilayah yang mempunyai bandara-bandara dan pelabuhan-pelabuhan yang bisa masuk secara internasional harus ditingkatkan, karena bisa mengurangi waktu tempuh,” papar Rico.
Agar pengembangan Bandara DEO berjalan lancar, dalam Raker, Rico Sia meminta kepada Menteri Perhubungan dan Menteri Keuangan terkait perizinan pesawat mendarat hingga rekomendasi bea cukai.
“Saya berharap bea cukai bisa segera mengeluarkan rekomendasi agar pesawat bisa mendarat di Bandara Dominie Eduard di Sorong. Sedangkan kepada Kementerian PU (Pekerjaan Umum) serta Kementerian Perhubungan agar bisa segera membangun terminal. Baik terminal kedatangan maupun keberangkatan luar negeri, untuk mengontrol keluar masuknya wisatawan mancanegara. Ini demi keamanan dan mengontrol pendapatan, imigrasi,” papar Rico.
Untuk pesawat internasional, jelas Rico, saat ini sudah bisa mendarat di Bandara Internasional DEO, yang belum selesai hanya kurang surat rekomendasi dari Bea Cukai.
“Oleh karenanya saya minta agar Bea Cukai bisa segera menerbitkan rekomendasi dimaksud dan terminal kedatangan dan keberangkatan wisatawan dari luar negeri bisa segera dibangun,” tegas Rico.
Dalam pengembangan Bandara Domine Eduard Osok, Rico mengatakan jika dirinya sudah melakukan komunikasi dengan Kepala Bandara International DEO Sorong, Asep Sukarjo di Sorong.
“Beliau menyampaikan bahwa yang paling utama sekarang adalah terminal. Kalau boleh, di tahun 2026, jika pembangunan terminal belum diprogramkan, mohon bisa masuk menjadi program kerja atau segera diprogramkan. Saya pun berharap Kementerian Perhubungan segera memperhatikan hal ini sebagai aspirasi daerah yang harus saya perjuangkan dari dapil saya,” jelas Rico.
Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah, bahwa kementerian keuangan melalui bea cukai kehadirannya dibutuhkan untuk mengontrol keimigrasian.
“Sedikitnya tiga sampai lima pesawat jet pribadi ada di Bandara Domine Eduard Osok ketika saya ke dapil. Dengan adanya private jet masuk ke sana, artinya peningkatan kunjungan ini harus diikuti dengan infrastruktur lain yang memadai tapi juga harus disertakan kewaspadaan kita karena itu wisatawan luar negeri,” tukas Rico.
Rico Sia pun berharap, pendapatan dari sektor pariwisata ini segera disikapi oleh Kemenkeu untuk memberikan anggaran tambahan dalam pembangunan terminal bandara International Domine Eduard Osok.
“Dalam waktu dekat ini, saya perjuangkan supaya pesawat dari dunia internasional bisa mendarat di Sorong, dan terminal kedatangan dan keberangkatannya bisa segera dibangun sebagai kontrol. Ini harus menjadi keseriusan kita bersama dalam membangun kepariwisataan yang merupakan salah satu sektor unggulan untuk menambah pendapatan negara non-pajak, di samping juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi Papua Barat Daya, baik ekonomi kreatifnya maupun UMKM-nya yang sangat-sangat besar,” pungkas Rico. (**/min)









