Puluhan Jurnalis di Papua Barat Daya Buktikan PT Gag Nikel Gencar Reklamasi dan Bebas Limbah

SORONG– Puluhan jurnalis dari berbagai media di Papua Barat Daya dan LSM yang turut serta dalam kegiatan Rapat Eksternal PT Gag Nikel membuktikan  adanya kegiatan reklamasi yang digencar dilaksanakan oleh PT Gag Nikel  dan perairan di sekitar Pulau Gag yang tidak tercemar oleh kegiatan penambangan nikel alias bebas limbah.

Para jurnalis dari berbagai media di PBD dan LSM saat mendapat penjelasan tentang proses penyaringan limbah tambang PT Gag Nikel. (Rosmini/SuaraSorong.com)

Hal ini terungkap saat peserta media gathering mengunjungi lokasi tambang nikel di Pulau Gag, Jumat (23/1/2026). Didampingi Corporate Secretary Legal and External  Relation Senior Manager PT Gag Nikel, Mustajir, SH MH,  dan Koordinator Pelaksana Rapat Eksternal yang juga Officer Manager Sorong, Rudi S.Sumual, para jurnalis dan LSM  bahkan ikut menanam pohon di salah satu bukit bekas arel tambang yang akan diberi nama sebagau Bukit Media Papua Barat Daya.

Perairan di sekitar dermaga PT Gag Nikel yang tampak jernih. (Rosmini/SuaraSorong.com)

Kepada wartawan, Mustajir mengatakan, PT Gag Nikel sangat konsen dengan kegiatan reklamasi dan rehabilitaso lahan. Hal ini sejalan dengan visi PT Gag Nikel yakni “Menjadi Perusahaan Berbasis Mineral Nikel Yang Berstandar Global dengan Prinsip Berkelanjutan”.

“Untuk melakukan reklamasi ini pak, tidak sembarangan, semua sudah ada aturannya baik itu jenis pohon yang digunakan, kedalamannya sampai jenis pupuk yang digunakan dan itu semua sudah ditentukan oleh pusat,”ujar Mustajir saat memberikan penejelasan di Bukit Mandacan.

Dikatakan, setelah operasi tambang dilakukan, maka areal yang digunakan tidak ditinggalkan begitu saja melainkan ditanami pohon jangka panjang yang tidak mematikan tumbuhan lokal yang ada di sekitarnya. 

Hal ini dibuktikan dengan memberikan kesempatan kepada wartawan untuk melakukan penanaman pohon di salah satu bukit yang sudah ditambang.

Dengan menyediakan sejumlah lobang tanaman dan pupuk, para jurnalis pun menanam berbagai tanaman, seperti anakan pohon Akasia, Pohon Pinus, Pohon Sangin dan lainnya.

Bibit pohon yang masih ada di dalam koker dilepas dan dimasukkan ke lobang tanaman yang telah disiapkan.

Setelah ditanam, dilanjutkan dengan perawatan dengan melakukan penyiraman sehingga diyakni pohon yang ditanam tumbuh subur seperti yang diharapkan. Dari pantauan media ini, di sekitar areal penambangan tampak pohon-pohon pinus tumbuh di areal reklamasi PT Gag Nikel. Untuk areal yang sudah direklamasi, ditegaskan oleh Mustajir, sesuai aturan tidak bisa ditambang lagi. 

“Jadi kalau dibilang kita menambang terus kemudian ditinggalkan, tidak ada pak, sangat tidak ada. Besok bapak-bapak bisa klarifikasi, melihat langsung di lokasi,”ujar Rudi Sumual dalam presentasenya pada penyampaian materi hari pertama (Kamis, 22/1/2026) Rapat Koordinasi Eksternal di Lantai 3 Hotel Aimas, Kabupaten Sorong.

Dikatakan Rudi Sumual, sejak beroperasi tahun 2018 hingga Desember 2025, luas lahan yang sudah berhasil direklamasi  138, 25 Ha dengan 375.000 tanaman dan 72.000 endemic dan lokal. 

Dalam perlindungan lingkungan pertambangan, PT Gag Nikel juga melakukan rehabilitasi DAS (Daerah Aliran Sungai)  dengan luas 666,6 Ha.

“Lokasi DAS yang kita rehab itu ada di Sorong, itu diwajikan untuk kami rehab. Kenapa  di Sorong? itu ditunjuk oleh pemerintah, yang kasi pemerintah, bukan kita,”ujar Rudi Sumual.

Selain itu, PT Gag Nikel  juga memiliki program penanamanan di daerah pantai yang bukan hanya dilakukan di sekitar kawasan PT Gag tapi hingga ke Waisai Ibukota Raja Ampat dan Kota Sorong.

Program lain terkait konservasi terumbu karang seluas kurang lebih 1.000 m² di kawasan pesisir Raja Ampat. Program ini dimonitor tiap triwulanan oleh tim internal, dan pengawasan tahunan bersama Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong.

Selain soal reklamasi, para jurnalis juga membuktikan tidak adanya pencemaran lingkungan di perairan Pulau Gag yang diakibatkan oleh operasi tambang nikel. Sebelum memasuki dermaga PT Gag Nikel,  laut disekitarnya tetap biru membahana dan sangat terjaga kebersihannya. 

Demikian pula saat akan menuju ke lokasi perairan Gag untuk pelepasan tukik, laut begitu bersih dengan pohon kelapa yang berderet di bibir pantai.

Dalam pengolahan Limbang tambang, PT Gag Nikel menerapkan sistem drainase, sump pit, dan kolam pengendapan untuk menampung air larian.

Dimana Proses pengolahan air limbah dilakukan melalui lima kompartemen sebagai filter dan tampungan sedimentasi, semua air atau limpasan hasil hujan itu sebelum masuk ke badan sungai diendapkan terlebih dahulu di kolam-kolam yang ada untuk dilakukan pengukuran Total Suspended Solids (TSS) setiap hari.

TSS yang ditentukan pemerintah tidak boleh lebih dari 200 Mg/L. Sementara PT Gag Nikel sejak beroperasi, air limbah tambang memiliki pH stabil (7–8), TSS hanya 5–27 mg/L (baku mutu: 200 mg/L), dan kadar Chromium VI tercatat 0,03–0,07 mg/L (batas: 0,1 mg/L). Tingkat kebisingan di seluruh titik pemantauan tidak melebihi 70 dBA.

Di areal akhir proses penyaringan limbah, terpantau air dari hasil operasi tambang dalam keadaan jernih dan siap dialirkan ke perairan Pulau Gag. 

Yang menarik seperti dijelaskan oleh Mustajir, bahwa dalam proses pengendapan air limbah dipantau langsung oleh Kementerian ESDM melalui satu alat konektivitas. “Dengan  adanya alat ini, kalau airnya belum jernih akan ditegur langsung dari pusat,”tandas Mustajir.(min)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.