Keluar dari Lubang Batu, Kali Air Panas Dipercaya Sembuhkan Penyakit Kulit
MENUNJUKKAN komitmennya untuk mengangkat potensi wisata di Provinsi Papua Barat Daya, Media Visit yang digelar PT Pertamina EP (PEP) Papua Field benar-benar membuka mata bahwa surga wisata di provinsi ke-38 ini bukan hanya bertumpu pada Raja Ampat yang namanya sudah mendunia itu.

Melainkan banyak pilihan potensi wisata yang tidak kalah hebatnya dan bisa jadi ikon bagi daerah setempat. Adalah Kampung Adat Malasigi yang berada di Distrik Klayili Kabupaten Sorong merupakan sasaran Media Vist Pertamina EP Papua Field kali ini.
Diikuti berbagai media di Papua Barat Daya, rombongan Media Visit yang dilepas oleh Field Manager Pertamina EP Papua, Ardi, disambut antusias 10 jurnalis yang begitu takjub dengan potensi wisata yang dimiliki Kampung Adat Malasigi.

Betapa tidak, setelah menempuh perjalanan sekitar hampir 2 jam, iring-iringan mobil hilux tiba di Kampung Adat Malasigi dan rombongan langsung disambut dengan ramah oleh warga Kampung Adat Malasigi dalam proses penyambutan adat yang begitu sakral.

Effort warga dalam penyambutan adat ini luar biasa, mulai dari anak-anak hingga bapak mama berbaris rapih dengan pakaian adat khas suku Moi Kelim yang dikenakan sejak pagi.
Bukan hanya itu, senyum ramah yang begitu tulus juga terus terpancar dari raut wajah warga Kampung Adat Malasigi.

Selain tarian adat Suku Moi Kelim yang diiringi dengan nyaringnya bunyi “seruling” kerang, sebagai ungkapan kebersamaan sekaligus penghargaan kepada rombongan Pertamina yang menginjakkan kaki di Kampung Adat Malasigi, proses penyambutan adat ditandai dengan pengalungan kalung manik-manik kepada rombongan Pertamina dan dilanjutkan dengan injak pelepah daun pisang.

“Peyambutan ini khas orang Moi, dan pengalungan itu sebagai tanda pengenalan dan rombongan Pertamina yang datang itu kita sanggap sebagai keluarga,”tutut Yoel Fami, pemuda Kampung Adat Malasigi.
Mengenakan mahkota khas suku Moi Kelim, Yoel Fami menuturkan sekilas kalau mahkota yang berbentuk perahu itu dibuat dari bahan dasar rotan.

Mahkota bukan sembarang mahkota karena dari rotan yang berbentuk perahu, diujungnya ada beberapa helai bulu kasuari yang sangat berharga bagi Suku Moi Kelim.
Tak heran jika mahkota yang khusus dikenakan kaum pria itu sangat dirawat dan disimpan baik untuk digunakan kembali jika ada tamu-tamu yang berkunjung ke Kampung Malasigi.
Penyambutan adat, kerajinan anyaman tas noken secara lansung oleh salah satu mama merupakan wisata budaya yang ditunjukkan masyarakat Kampung Adat Malasigi kepada rombonga Media Visit.
Setelah beristirahat sejenak, penulis dari media SuaraSorong,com dan beberapa jurnalis merasa sangat excited ketika Mba Yati dari Pertamina EP Papua Fiel mengajak teman-teman media untuk mengunjungi Air Panas Belempe dan Gua Wo’Battiwela.
Menjangkau Air Panas Belempe tidak langsung di depan mata, melainkan harus berjalan kaki sekitar 1 kilometer. Dengan semilir angin yang begitu sejuk dari pepohonan yang ada di kanan kiri dari jalan setapak, membuat perjalanan menuju Air Panas Belempe pun terasa begitu enjoy.
Di perjalanan, kemi melewati perkebunan pisang Kampung Adat Malasigi. Kebun Pisang Belempe “Matahati”Malasigi merupakan program pelibatan dan pengembangan masyarakat dibidang lingkungan yang terwujud atas hasil kolaborasi SKK Migas-Pertamina EP Papua Field. Dengan tidak melewatkan plang yang ada, jepret kamera ponsel pun membidik Kebuh Pisang Belempe itu.
Penasaran dengan Pemandian Air Panas dan perjalanan belum sampai-sampai juga, “Air panasnya masih jauh ka,”teriakku kepada Yoel Fami yang memandu perjalanan kami. “Sudah dekat, ada di depan,”jawab Yoel seraya menujukkan jarinya ke arah jalan yang ada di depan.
Perjalanan berlanjut dan akhirnya kami pun sampai ke lokasi Air Panas Belempe. Sebelum memasuki kawasan Air Panas Belempe, di mata jalan terpasang papan plang berisi rambu-rambu masuk ke Kali Air Panas.
Sebagai salah satu obyek wisata andalan di Kampung Adat Malasigi, di papan plang besi bercat putih itu,tampak beberapa logo sponsor yang mendukung kelestarian Pemandian Air Panas Belempe, seperti dari Dinas Kehutanan, KPH, Pemprov Papua Barat Daya, Pemerintah Kabupaten Sorong, Pertamina EP Papua Field dan lainnya.
6 Larangan di Pemandian Air Panas
Dari rambu-rambu yang wajib ditaati oleh pengunjung Kali Air Panas, selain tidak merusak alam sekitar, tidak mengkonsumsi alkohol, tidak mengambil sesuatu di spot wisata, yang menarik adalah 3 rambu lainnya yakni tidak mengonsumi makanan dingin, tidak melakukan hal-hal yang negatif dan perempuan yang sedang berhalangan (haid) tidak boleh mengunjungi air panas.
Menurut Yoel Fami, sumber air panas yang mengalir ke Sungai Klaluguk di Kampung Malasigi secara resmi dibuka oleh Pemerintah Kabupaten Sorong sejak tahun 2009, hanya saja tidak ada keberlanjutannya.
Larangan tidak boleh berbuat hal-hal negatif seperti berhubungan badan, dan dilarang bagi perempuang yang sedang haid berkunjung ke Air Panas Belempe karena seperti dikatakan tetua adat, Stepanus Fami bahwa Pemandian Air Panas di Sungai Klaluguk itu dianggap sebagai tempat suci sehingga rambu-rambu yang ada pantang untuk dilanggar.
Dari cerita warga setempat, pernah ada sepasang kekasih yang piknik di Kali Air Panas dan melakukan hubungan layaknya suami isteri, tidak berselang lama kemudian, dengan waktu berbeda, sepasang muda mudi itu kemudian meninggal dunia.
“Yang lagi haid itu juga tidak boleh ke sana (Air Panas Belempe) karena itu tempat suci,”ujar Stepanus Fami
Seperti halanya di ikon Raja Ampat Piyainemo yang ada tangga-tangga seribu, untuk sampai ke Air Panas Belempe, juga sudah disediakan tangga-tangga kayu yang mudah dilewati. Dan setelah menaiki sedikit gundukan bebatuan, wow !! tampak langsung terlihat hamparan kali yang jernih berwarna hijau kebiru-biruan langsung menyegarkan mata.
Hormati Adat Sebelum Sentuh Air Panas
Sebelum menyentuh Kali Air Panas, Yoel Fami mengatakan ada prosesi adat yang harus kami lalui, sebagai tanda permisi kepada tuan tanah. Dalam prosesi adat itu, dengan menggunakan Bahasa Moi Kelim, Yoel meletakkan tangan di Kali Air Panas kemudian dibasuhke ke jidat kami yang datang ke Kali Air Panas.
“Istilahnya sebagai perkenalan supaya pulang itu jangan ada gangguan,”tandas Yoel.
Membuktikan kalau air yang mengalir di Sungai Klaluguk itu panas, saat mencelupkan tangan ke air itu, amazing benar-benar penas. “Panas sekali,”ujarku seraya langsung mengangkat tangan yang saya celupkan di Kali Air Panas itu.
Pantauan media ini, sumber air panas keluar dari celah-celah bebatuan yang ada di sebelah kanan Sungai Klaluguk. Panasnya air tampak dari uap yang terlihat di sekitar bebatuan tersebut. “Ini kalau rendam telur langsung masak,”ujar Yanti dari media Balleonews.
Selain rombongan Pertamina, rekan-rekan jurnalis, sensasi Kali Air Panas di Kampung Malasigi juga dirasakan beberapa sopit Hilux yang menyertai rombongan Media Visit Pertamina EP Papua Field.
“Benar-benar panas, kalau mandi tidak bisa ini airnya panas sekali,”ucap salah satu driver seraya menaruh tangannya di kali Air Panas.
“Air panas ini keluar dari lubang batu dan dia baku dapa dengan sungai besar. Tidak pernah kering, meski cuaca panas seperti sekarang, dia tetap terus mengalir,”tandas Yoel Fami.
Sebagai tempat suci, Yoel Fami juga menuturkan kalau Pemandian Air Panas di Kampung Adat Malasigi bisa menyembuhkan penyakit kulit seperti kudis ( Scabies).
“Dulu cerita bapak Kampung, bapak Menase, ada orang dia sakit kudis, selalu gatal-gatal. Bapak Kampung bawa kesini, suruh gosok sampai merah baru bapak kampunf gosok dengan air panas, sampai satu bulan langsung sembuh,”tutur Yoel Fami.
Sensasi Kali Air Panas begitu terasa saat kami menyebrangi Sungai Klaluguk untuk menuju ke Gua Wo’Batiwela. Bersama Mba Yati, Humas Pertamina EP Papua Field, saat menyebrangi Sungai Klaluguk dengan telanjang kaki, Kali Air Panas benar-benar langsung tembus pori-pori.
Melewati bebatuan yang cukup licin, Fami Yoel yang memandu perjalanan kami dengan sigap langsung menolong, menarik tangan kami untuk cepat melangkakan kaki berpindah dari satu bebebatuan yang ada di depannya. “Uhh airnya panas,”ujarku setelah minggir ke tempat yang aman.
Dari Kali Air Panas kami pun bergerak kembali melanjutkan perjalanan menaiki bukit menuju ke Gua Wo’Battiwela. Berjarak sekitar 50 meter dari Kali Air Panas, di Gua Battiwela, karena tidak membawa senter dan perlengkapan lainnya, rombongan pun hanya sampai di depan pingtu gua seraya memanfaatkan kesempatan indah ini denganm pose bersama.
Menurut Yoel Fami, di dalam Gua Wo’Battiwela yang panjangnya hingga 300 meter dengan ketinggian 20 meter hingga 30 meter, tersimpan banyak kelelawar.
“Pengunjung biasanya pertama bilang mau lihat cenderawasih tapi berubah bilang mau ke air panas, ke gua, ya kita antar saja sesuai keinginan pengunjung,”ucapnya seraya tersenyum.
Infrastrktur Jalan Belum Menunjang, Transportasi jadi Kendala
Diakui Yoel, selain Kali Air Panas dan Gua Wo’Battiwela, Kampung Malasigi memiliki potensi wisata utama yang menarik perhatian wisatawan manca negara. Yakni adanya 5 species Burung Cenderawasih yakni diantaranya Burung Cenderawasih kuning kecil, Burung Cendetrawasih botak (menari di bawah tanah), dan Burung Cenderawasih dada kuning.
Menurutnya, Kali Air Panas bisa terangkat (dipromosikan) karena adanya potensi wisata Burung Cenderawasih.
“Untuk lihat Burung Cenderawasih kita harus jalan pagi jam 03.00 Wit karena jangkauannya jauh, sekitar 3 Km 800 meter. Tamu asing itu kalau mau lihat Burung Cenderawasih biar jalan jauh bagaimana mereka tetap kunjungi,”ujar Yoel.
“Tamu asing di Malasigi ini semua negara sudah pernah datang ke sini,”imbuh Yoel saat ditanya dari negara mana saja wisatawan asing yang pernah berkunjung ke Kampung Malasigi.
Memiliki obyek wisata yang sangat potensial, Yoel mengakui sampai saat ini tingkat kunjungan masih sepi karena akses jalan menuju ke Kampung Adat Malasigi yang belum menunjang.
Dimana jalan utama yang belum diaspal membuat waktu perjalanan yang semesinya bisa dijangkau 1 jam lebih jadi panjang, bisa hingga hingga 2,5 jam.
Hal ini membuat biaya transportasi menuju Kampung Malasigi jadi relatif mahal. “Tamu banyak yang ke sini (Malasigi) tapi komplainnya masalah jalan. Jalan ini kan masalah transportasi, kami di sini guide dengan ibu-ibu yang masak itu harganya standar. Mereka (pengunjung) hanya pikirnya transport karena jalan yang kurang memadai,”tokoh pemuda Malasigi lainnya, Edison Fami.
Terkait dengan infrastruktur jalan di Kampung Malasigi yang belum bagus, Field Manger Pertamina EP Papua, Ardi mengatakan, sebagai wujud perhatiannya, pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerntah Kabupaten Sorong dan Pemprov Papua Barat Daya serta pihak terkait lainnya untuk bersama-sama, berkolaborasi memperbaiki jalan yang rusak agar Kampung Wisata Malasigi Distrik Klayili Kabupaten Sorong bisa segera ditangani.
Agar kampung persiapan Malasigi yang pernah meraih juara I Kategori Desa Wisata Rintisan dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) pada tahun 2024 lalu semakin banyak dilirik wisatawan dalam negeri maupun mancanegara. (rosmini/SuaraSorong.com)







