Kolaborasi Rico Sia dan Kemenekraf RI, Puluhan Peserta di Kabupaten Sorong Antusias Ikuti Pelatihan KRIYA

SORONG– Setelah menyasar masyarakat di Kota Sorong, kegiatan “Pengembangan Sumber Daya Lokal Untuk Usaha Kreatif Berbasis KRIYA” yang digelar anggota Komisi VII DPR RI Dapil Papua Barat Daya Dr Rico Sia, M.Si bekerjasama dengan Direktorat KRIYA Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) RI, juga menyentuh masyarakat di wilayah Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.

Pose bersama setelah penyerahan cinderamata. (Rosmini/SuaraSorong.com)

Dengan menghadirkan narasumber Janti Julisen, S.Pi dari Mahkota Kreatif, kegiatan yang berlangsung di Aquarius Aimas, Kamis (5/11/2026) diikuti puluhan peserta.

Peserta yang mengikuti pelatihan KRIYA. (Rosmini/SuaraSorong.com)

Dengan dibagi 3 kelompok, saat praktek membuat kerajinan tangan Mahkota Papua, peserta pun tampak begitu antusias mengikutinya. Seperti bagaimana cara merangkai bahan dasar jadi kelopak bunga dipraktekkan langsung oleh peserta.

Anggota Komisi VII DPR RI Dapil Papua Barat Daya, Dr Rico Sia, M.Si saat menyampaikan sambutan. (Rosmini/SuaraSorong.com)

Seperti dikatakan oleh narasumber Janti bahwa dengan memiliku ketrampilan seperti membuat mahkota Papua, noken atau kerajinan tangan lainnya tentu bisa menjadi sumber “cuan” yang dapat menopang ekonomi keluarga.

Hal inilah yang diharapkan oleh anggota Komisi VII DPR RI Dapil Papua Barat Daya, Rico Sia yang brharap kegiatan pelatihan KRIYA-produk kerajinan tangan- dapat bermanfaat bagi para peserta yang kemudian bisa mencipatkan usahawan-usahawati baru.

Tidak perlu bergantung pada bantuan pemerintah dengan mengajukan berbagai proposal, Rico Sia juga mendorong para peserta untuk terus berkreasi menghasilkan produk-produk unggulan yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Dari kolaborasi bersama Kementerian Ekonomi Kreatif RI yang didukung Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, kegiatan pelatihan KRIYA dilaksanakan untuk meningkatkan ketrampilan yang dimiliki lebih hebat lagi.

“Ini maksud dan tujuan kami melaksanakan kegiatan seperti ini. Jadi antara anggota DPR atau lembaga DPR dengan Kementerian Ekonomi Kreatif, eksekutif, legislatif akan bekerjasama terus untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,”ujar Rico Sia.

Mewakili Direktur KRIYA Deputi Bidang Kreativitas dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif, Dr Dadam Mahdar, M.Hum, mengatakan ekonomi kreatif dan pariwisata saling bergandengan tangan, terlebih khusus dengan sektor KRIYA.

Dengan menggunakan bahan lokal, seperti bulu ayam, Mahkota Papua yang dihasilkan dalam pelatihan ini merupakan salah satu KRIYA lokal Kabupaten Sorong.

Ia juga mengatakan bahwa KRIYA yang merupakan hasil dari ekonomi kreatif akan memiliki nilai tambah jika ada inovasi atau keunikan didalamnya. Selain itu produk inovasi yang dihasilkan juga harus dicatatkan sebagai hak kekayaan intelektual (HAKI).

Ekraf, Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Dadam Mahdar mengungkapkan di Kemenekraf saat ini memiliki 21 sub sektor ekonomi kreatif. Selain KRIYA juga ada sub sektor kuliner, fashion, seni rupa dan seni pertunjukkan serta subsektor lainnya.

Dari kegiatan pelatihan yang diikuti para penggiat KRIYA, Dadam Mahdar berharap dapat mendorong lahirnya produk-produk kreatif yang inovatif serta menjadikan potensi lokal sebagai kekuatan ekonomi masyarakat.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Provinsi Papua Barat Daya, Dr Yusdi Lamatenggo, S.Pi, MM dalam sambutannya mengungkapkan sejumlah potensi alam, tambang minyak, pariwisata dan budaya dimiliki Kabupaten Sorong.

Salah satunya adalah Kampung Adat Malasigi yang tahun 2024 juara I nasional APJI untuk kategori desa wisata rintisan.

Dikatakan oleh Yusdi bahwa dengan memiliki potensi alam yang sangat kaya, pemerintah tentunya tidak hanya menggantungkan pertumbuhan pada satu sektor.

Potensi alam berupa minyak dan gas akan habis, hutan akan habis, tapii potensi ekraf (ekonomi kreatif) yang merupakan pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia dan Papua Barat Daya khususnya akan terus berlanjut.

“Jadi mama-mama, kakak-kakak dan adek-adek semua yang punya kreatifitas, mari dukung pengembangan ekraf. Karena ekraf akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi kedepan. Minyak, gas akan habis, hutan akan habis. Apa yang abadi, ketrampilan. Katrampilan itu kalau diasah dengan baik dia akan menghasilkan pendapatan bagi masyarakat,”ujar Kadis Parekraf Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo.

Untuk terus bertumbuh, Ia juga mengatakan, produk KRIYA (hasil kerajinan tangan, handmade) tidak hanya sebatas menghasilkan barang tapi kedepan harus sampai pada tahapan memperhatikan kualitas produk, pengembangan usaha dan bagaimana pemasaraannya.

Salah satu conton produk KRIYA adalah noken, yang merupakan identitas bidaya Papua yang sudah mendunia. Noken ditetapkan oleh Unesco menjadi warisan budaya benda pada 4 Desemver 2012.

“Sejak saat itu ditetapkan sebagai Hari Noken Sedunia,”tandas Yusdi Lamatenggo yang disambut aplaus para peserta. (min)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.