SORONG– Kegiatan PAPEDA Summit di hari kedua yang dipusatkan di Vega Prime Hotel. Kamis (3/9/2026) tampak semakin ramai. Semua ruangan yang digunakan untuk membahas isu-isu strategis terkait pembangunan Papua berkelanjutan dipadati peserta.

Dalam sesi diskusi, dengan dipandu moderator, perdebatan yang seru pun terjadi, seperti pada materi pemetaan hutan adat, dengan narasumner Dirjen Perhutanan Sosial, Catur Endah Prasetiani, S.Si, MT, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat Daya, Johni Way, S.Hut,M,Si, dan dua narasumber lainnya, peserta pada berebutan untuk mengajukan pertanyaan.
Hal yang sama juga tampak di ruang lain yang mengupas soal Ekowisata Berkelanjutan dengan narasumber Yusdi Lamatenggo, S.Pi,M.Si, Alex Walsimon dan Kristian Suayai, dimana peserta pun antuasias mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang cukup tajam.
Bukan hanya itu, keramaian PAPEDA Summit juga tampak di stand-stand galeri produk UMKM dari 5 provinsi dan mitra lainnya. Stand Papua Pegunungan yang menjual tas noken, madu asli dan produk UMKM lainnya.
“Hari pertama, hari kedua ini sangat luar biasa, perdebatan tentang iklim, hutan adat, tanah adat, ulayat, kebijakan, investasi sangat ramai. Dan inilah masalah-masalah yang ada di atmosfir Tanah Papua,”ujar Ketua Panitia PAPEDA Summit 2026 disela memantau suasana PAPEDA Summit di hari kedua, Kamia (3/9/2026).
Sebagai ketua panitia, Julian Kelly Kambu yang sehari-hari Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat Daya mengaku tidak menyangka PAPEDA Summit yang diikuti 1.030 peserta akan seramai ini.
“Sangat luar biasa, kami sebagai ketua panitia tidak menyangka. Kerja 3 bulan tapi maksimal. Peserta yang awalnya 7.038 sangat luar biasa, mereka berdebat berargumentasi dan kemarin kami juga didemo, adik-adik yang demo mereka juga tidak salah, apa yang mereka sampaikan itu yang kita bahas,”terang Julian yang dipuji dan namanya disebut-sebut Menko Pangan Zulkifli Hasan karena berhasil menghadirkan peserta pada acara pembukaan hingga 1.030 peserta.
Melihat antusiasnya peserta PAPEDA Summit 2026, Kelly Kambu mengatakan, event seperti PAPEDA Summi dengan topik pembangunan Papua berkelanjutan semestinya jadi agenda tetap untuk dilaksanakan di Tanah Papua.
“Bisa dijadwalkan 2 tahun sekali ka, sehingga informasi-informasi terkait dengan hasil hutan bukan kayu, masyarakat adat, hutan adat kemudian permasalahan-permasalan pembangunan berkelanjutan, misalnya masalah lingkungan hidup, sosial, ekonomi, kebijakan. Nah ini terus kita jaga ditatarn kebijakan sehingga menjadi sebuah isu besar yang kemudian dikembangkan menjaid kebijakan,”terangnya.
Lanjut dikatakan, potensi Papua sangat luar biasa, khususnya hasil hutan bukan kayu. Dan potensi luar biasa itu telah dipaparkan oleh 6 provinsi di Papua. Ia menilai selama ini lebih banyak dikembangkan oleh mitra pembangunan. Hal sangat baik dimana ada kolaborasi yang baik, tapi setidaknya dari sisi kebijakan, pertemuan antara kebijakan yang dihasilkan pemerintah dengan mitra pembangunan.
“Kita selamatkan untuk bagaimana menjaga keberlanjutan pembangunan itu bagi generasi dan anak cucu kita. Kita selalu bicara generasi dan anak cucu, tidak mau tinggalkan air mata, tapi mata air. Nah ini bagian-bagian yang perlu kita rawat dalam kebijakan. Kita meninggalkan mata air atau air mata, itu kebijakan yang berbicara sehingga kita ram semua,”terangnya.
Dari PAPEDA Summit diharapkan dapat dirumuskan, jadi rekomendasi kebijakan yang diserahkan kepada pemerintah pusat, DPR se Tanah Papua, gubernur, bupati se Tanah Papua, dan komponen masyarakat lainnya.
Dikatakan, Kelly Kambu, jika selama ini pemerintah pusat melihat Papua dari konsep Papua berkelanjutan seperti apa, nah saat ini bagian Papua melihat bagian konsep pembangunan berkelanjutan yang dirumuskan sesuai versi di Tanah Papua.
“Kami kemarin agak kecewa karena dari Kementerian Kehutanan, bapak Wamen tidak hadir sehingga kami menyampaikan bahwa Kalimantan itu penting, tapi jangan sampai Papua dikorbankan. Papua Bernafas, Dunia Bernyawa.Jadi ini menginspirasi kami, untuk kedepan mungkin kira buat seperti Forum Pembangunan Berkelanjutan,”ujar Kelly Kambu.
Ia juga menilai, peserta PAPEDA Summit 2026 dari 6 provinsi hadir dengan menunjukkan potensinya yang begitu luar biasa. Kedepan, lanjut Julian Kelly Kambu, tahun depan bisa digagas menggelar event yang dikemas dalam pameran seperti yang dilaksanakan pada PAPEDA Summit 2026.
“Mungkin di Sorong ini sangat strategis karena pintu masuk dan ini bisa kita kampanyekan kepada turis yang datang, kita bisa menjual potensi kita bahwa inilah Papua. Karena Papua bukan hanya indahnya alam, bukan hanya karena sumber daya alamnya yang melimpah, tapi ada potensi-potensi lokal yang bisa dikelola dengan baik yang dapat mensejahterakan masyarakat,”tandasnya.
Ia pun mencontohkan salah satu yang dibahas di PAPEDA Summit tentang potensi lokal seperti sagu yang bisa menjadi beras, gula, tepung. “Ini yang perlu kita gemakan,”ujarnya lagi. (min)










