Di PAPEDA Summit 2026, Sekolah Adat Papua Pegunungan jadi Inspirasi

Pertahankan Adat dan Budaya, Bina Anak Usia Dini

SORONG– Turut menyukseskan event akbar yang berlangsung di Kota Sorong 2-4 September 2026 yang dihadiri peserta dari 6 Provinsi di Tanah Papua, salah satu yang menarik perhatian adalah peserta dari Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.

Ketua Panitia PAPEDA Summit 2026, Julian Kelly Kambu, ST, M.Si bersama Melki Hisabi (ujung kanan) dan tim dari Papua Pegunungan. (Rosmini/SuaraSorong)

Selain tampil dengan khas kotekanya, peserta dari Papua Pegunungan yang berjumlah 9 orang juga turut serta dalam pameran UMKM PAPEDA Summit. Dari produk UMKM yang dijual selain tas noken, gelang dan aksesoris khas Papua Pegunungan yang merupakan hasil dari binaan sekolah adat, juga ada madu asli Papua Pegunungan yang menarik perhatian pengunjung.

Bukan hanya itu Papua Pegunungan juga menampilkan foto-foto Festival Sekolah Adat. Berperan mengangkat nama Papua Pegunungan, tokoh pemuda Papua Pegunungan, Melki Hisage, bahwa Sekolah Adat berdiri sejak tahun 2022 dan milai melaksanakan festival sekolah adat di tahun 2026.

“Dan kami berencana membuat festival sekolah adat di tahun 2027, ini yang kedua, ”tutur Melki Hisage yang ditemui disela-sela kegiatan PAPEDA Summit di Kota Sorong, Jumat (3/9/2026).

Dikatakan, saat ini ada 6 sekolah adat yang tersebar di distrik yakni di Kampung Yogonima Distrik Itlayhisage, Kampung Walelagam Distrik Walelagam dan Kampung Sekan Distrik Siepkosi. Dijelaskan oleh Melki Hisage, sekolah adat yang membina anak-anak usia dini didirikan tidak lain untuk melestarikan adat istiadat, budaya masyarakat Papua Pegunungan.

“Kami mau ajar anak-anak karena budaya yang dulu ada itu semakin terkikis dan semakin hilang. Pokoknya kami tidak mau, budaya yang dulu ada itu hilang. Jadi kami tetap menerapkan budaya yang asli kepada anak-anak yang akan datang. Kalau kita tidak bicara budaya hari ini maka anak-anak kedepan akan mengalami kehancuran budaya,”ujar Melki Hisage,

Membina anak usia 3-10 tahun, sekolah adat dilaksanakan seminggu 3 kali. Bagaimana peran kaum perempuan dan pria dalam kehidupan budaya, hal seperti inilah yang ditanamkan kepada anak didik di sekolah adat.

“Perempuan dibelajarkan ke perempuan dan laki-laki diajarkan ke laki-laki juga. Peran laki-laki seperti apa, peran perempuan seperti apa, kerja kebun, anyam noken. Laki[-laki bikin sike, panah, koteka dan lainnya. Jadi sekolah adat ini belajar terkait budaya yang ada,”jelasnya.

Agar anak-anak didik belajarnya terarah, Melki Hisabe juga mengatakan telah membuat buku khusus sekolah adat. Untuk pembiyaan sekolah informal ini, menurutnya juga butuh dukungan dari pemerintah sehingga bisa mendorong para guru sekolah adat untuk terus mendalami budaya Papua Pegunungan.

Hadirnya sekolah adat di Papua Pegunungan mendapat apreseasi dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat Daya yang juga Ketua Panitia PAPEDA Summit 2026, Julian Kelly Kambu, ST, M.Si.

“Hari ini baru saya dapat inspirasi dari anak laki-laki (maksudnya Melki Hisabe) bahwa ada sekolah adat. Artinya kita di Papua, seperti kami dari Maybrat adatnya mulai tergusur dan orang-orang tua jaman dulu, sekolah adat dulu ada, tapi hari ini tidak ada, semua sudah terbawa dengan ilmu pengetahuan,”ujar Julian Kelly Kambu.

“Informasi hari ini sangat luar biasa. Ini bisa jadi pembelajaran yang terbaik. Kita bisa meniru kemudian kita kembangkan,”imbuh Kelly Kambu.

Ia juga mengatakan, potensi ilmu adat itu ada dan bisa dilihat seperti jaman dulu orang mabuk untuk menyelesaikan masalah bukan membuat masalah “Tapi generasi hari ini mabuk membuat masalah, ini contoh kasus. Jadi sekolah adat ini membina karakter, moral, mental kepada anak-anak usia dini,”ujar Kelly Kambu.

Menilai peran sekolah adat yang sangat luar biasa, Kelly Kambu pun menyampaikan terima kasih kepada Melki Hisabe yang telah memberikan informasi adanya sekolah adat di Papua Pegununungan dan memberikan dukungan, spirit sehingga sekolah adat terus berkembang di Papua Pegunungan. (min)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.