Dapat Suntikan Multivitamin, Stok Sapi di Papua Barat Daya Dijamin Sehat

SORONG– Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 H atau Idul Kurban, tim dari Dinas Peternakan Provinsi Papua Barat Daya yang dipimpin drh. M.M Firdiana Krisnaningsih sebagaibKepala Bidang Peternakan, Kesehatan Hewan, dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Provinsi Papua Barat Daya  turun lapangan (turlap) mengecek kesiapan para peternak dalam menyediakan sapi kurban di Provinsi Papua Barat Daya.

drh Firdiana memberikan suntikan multivitamin bagi sapi yang telah siap dijual. (Rosmini/SuaraSorong)

“Jadi hari ini kita monitoring dan surveillance
Dan kita melihat bahwa pada umumnya ternaknya sehat,”ujar drh Firdiana.

Dari hasil monitoringnya dikatakan, ada beberapa sapi yang Ia lihat sakit kulit yang disebut kaskado, scabies itu. Dan Ia minta kepada peternak agar sapi tersebut diobati dulu,jangan dijual.

Selain itu juga ada beberapa yang cacingan  dan diberikan obat cacing. “Jadi pada dasarnya Papua Barat Daya siap untuk stok kurban 2026.,”ujar drh Firdiana.

Untuk menjaga stamina sapi, drh Firdiana memberikan suntikan multivitamin kepada beberapa ekor sapi.

Dari laporan tim monitoring dari dinas terkait, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan di Kota dan Kabupaten Soromg, drh Firdiana mengungkapkan kurang lebih 15.000 ekor sapi kurban sudah diperiksa kesehatannya dengan lokasi peternakan sebagian besar di Kabupaten Sorong.

Ia juga mengatakan sampai saat ini belum ditemukan adanya penyakit berbahaya pada sapi kurban di Papua Barat Daya.

“Hanya yang menjadi prioritas nasional seperti biasa itu penyakit mulut dan kuku.Terus juga tadi saya sebut scabies.Scabies itu juga namanya penyakit sonosis ya. Penyakit yang menular dari hewan ke manusia dan manusia ke hewan. Itu gatal-gatal gitu ya. Itu termasuk pada penyakit yang kalau ada pada hewan kurban itu tidak layak untuk dijadikan hewan kurban,”jelasnya.

Lebih lanjut untuk membedakan sapi sehat dan tidak sehat,  disebutkan bisa dilihat dari ciri-cirinya dimana dari secara fisik sangat sederhana yakni sapi itu kurus atau tidak.

“Sapi itu kalau cacingan pasti dia kurus, perutnya buncit, kan seperti itu. Terus ada luka-luka nggak di kakinya, di mulutnya.
Terus dia hidungnya basah atau kering. Kalau normal, sehat berarti dia basah. Kalau basah, dia  basah ingus yang warna kuning apa, kita harus segera melaporkan kepada petugas,”terangnya.

Selain itu juga dilihat dari biji sapi tersebut dimana biji sapi harus dua. “Kalau bijinya satu, tidak boleh dan tidak layak untuk dikorbankan. Terus berikut lagi berkaitan dengan bulu. Bulunya halus atau bulunya kasar atau dia punya luka-luka.Terus kakinya, apakah kakinya pincang, ada luka atau tidak.  Jadi hal-hal simpel dan sederhana iti yang bisa orang-orang awam bisa memperhatikan, itu sebenarnya,”terang drh Firdiana.

Ia berharap umat muslim yang akan berkurban jika menemukan ada  hal-hal yang dicurigai ada penyakit agar segera melaporkan ke dinas teknis yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan.

Memantau kesiapan peternak menjelang Hari Raya Idul Kurban, drh Firdiana beserta staf mendatangi 2 lokasi peternakan yakni di Jaimimo Distrik Mariat dan peternak di Jalan Mambruk Unit 2 Aimas Kabupaten Sorobg.

Di Jalan Mambruk Unit 2 Aimas, drh Firdiana memberikan suntikan multivitamin ke beberapa ekor sapi milik Sismulyono. (min)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.