MERAUKE– Malam di ufuk timur biasanya datang lebih cepat. Bagi anak-anak di Yayasan Al Khodijah, Merauke, saat jarum jam menunjuk pukul tujuh malam, buku-buku pelajaran sering kali harus ditutup lebih awal.
Temaramnya lampu tak lagi sanggup menemani mata membaca akibat keterbatasan daya listrik yang membuat ruang belajar dipeluk remang.
Namun, pemandangan itu kini tinggal kenangan. Hampir satu bulan terakhir, malam-malam di ruang-ruang di Yayasan Al Khodijah berpendar terang benderang. Anak-anak asuh kini bisa merampungkan tugas sekolah dengan senyum yang tak kalah terang dari lampu di atas kepala mereka.
Siapa sangka, terangnya malam di yayasan tersebut bermula dari hiruk pikuk masyarakat yang mengantre untuk membeli paket sembako di pasar murah yang digelar PT PLN (Persero).
Alih-alih menjadi pendapatan, melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN, seluruh hasil penjualan tersebut disulap menjadi penyambungan kWh meter, instalasi listrik, dan penambahan daya yang kini menghidupkan fasilitas umum dan masyarakat prasejahtera salah satunya yaitu Yayasan Al Khodijah.
Bagi para pengurus yayasan, aliran listrik ini bak jawaban atas doa yang dipanjatkan setiap malam. Keterbatasan daya yang dulu sering menghambat aktivitas saat ini tidak lagi menjadi persoalan.
“Dulu, kegiatan mengaji malam seringkali harus dibatasi karena kondisi penerangan yang kurang memadai. Alhamdulillah, dengan bantuan listrik dari program PLN dan warga ini, anak-anak kami sekarang bisa belajar dengan nyaman. Semangat mereka berlipat ganda melihat terang di ruangan ini,” tutur Wakhidan, salah satu pengawas Yayasan Al Khodijah dengan mata berbinar.
Wakhidan menjelaskan bahwa bantuan pasang baru kWh listrik dilakukan pada gedung asrama guru serta ruang kelas sekolah menengah pertama (SMP) anak-anak yang sebelumnya hanya bertumpu pada satu instalasi listrik di gedung masjid. Dengan kondisi listrik yang terbatas, penghuni yayasan hanya menggunakan lampu sebagai penerangan serta kipas angin agar daya tidak turun dan bisa digunakan merata.
“Karena saat ini kebutuhan listrik dirasa sangat cukup bahkan berlebih, tidak menutup kemungkinan kami bisa melakukan penambahan penggunaan alat-alat elektronik yang bisa menunjang kegiatan 256 siswa baik yang tinggal di yayasan maupun yang datang untuk sekolah serta kebutuhan para guru. Terima kasih PLN atas kepeduliannya. Semoga program yang baik ini bisa terus berlanjut dan lebih banyak menebar kebaikan,” ujar Wakhidan.
Hingga saat ini, program bantuan pemasangan listrik gratis dan penambahan daya bagi fasilitas umum tersebut telah terealisasi kepada 25 pelanggan yang terdiri dari 16 fasilitas umum dan 9 rumah pelanggan prasejahtera.
Kedepannya, dana bantuan yang sudah terkumpul dari penjualan 1200 paket sembako seharga Rp70.000,- tersebut masih akan terus disalurkan kepada masyarakat di Kabupaten Merauke.
General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat, Diksi Erfani Umar mengungkapkan bahwa PLN terus berkomitmen untuk menghadirkan energi yang tidak hanya andal namun juga berdampak nyata untuk masyarakat khususnya di lingkungan sekitar. Tidak hanya menjadi penopang aktivitas namun juga penerangan bisa menjadi sarana pendukung yang vital dari sisi pendidikan, ekonomi hingga kesehatan.
“Program konversi dana sembako ini menjadi bukti bahwa PLN hadir tidak hanya sebagai penyedia listrik, tetapi sebagai tetangga, sahabat, dan penggerak sosial yang peduli terhadap lingkungan. Ke depan, kami berkomitmen untuk terus menyisir lokasi-lokasi sosial mulai dari panti asuhan, sekolah, hingga tempat ibadah di pelosok Papua dan Papua Barat agar tak ada lagi sudut daerah yang tertinggal dalam kegelapan,” ungkap Diksi. (**/ros)





