SORONG– Diikuti sekitar 60 peserta, Kedutaan Inggris untuk Indonesia melalui program Chevening Scholarship menggelar workshop sosialisasi beasiswa chevening di Lantai 2 Hotel Aston, Kota Sorong, Papua Barat Daya.

Dalam kegiatan sosialisasi yang digelar bekerjasama dengan BP Indonesia, menghadirkan beberapa narasumber diantaranya Gita Goewinda, Senior Marketing Manager Studi UK, British Council Indonesia, Tyas Amalia Prihatin (BP Indonesia), peserta tampak begitu antusias mengikuti kegiatan ini.
Scholarship and Alumni Coordinator Political Section Kedutaan Inggris, Vonny Lisayani menjelaskan, bahwa beasiswa chevening ini merupakan program dari Pemerintah Inggris untuk jenjang S2.
Dan khusus tahun ini Kedutaan Inggris untuk Indonesia di Jakarta bermitra dengan BP Indonesia untuk memberikan kuota khusus bagi para calon penerima beasiswa chevening di Papua.
“Untuk seluruh Indonesia, ada 40-50 kuotanya. Dibawah skema kemitraan chevening BP Indonesia itu kuotanya 3 orang untuk seluruh wilayah Tanah Papua. Tapi kami tidak membatasi karena tentunya banyak sekali teman-teman di Papua yang bisa mendapatkan beasiswa Chevening,”ujanya.
“Artinya seandainya kami menerima lebih banyak dari 3 orang, tentu masih bisa kami terima dalam program chevening regular atau umum selama mereka memenuhi persyaratan beasiswa chevening,”imbuh Vonny Lisayani.
Dikatakan, pendaftaran beasiswa chevening buka sampai tanggal 7 Oktober 2025. “Karena itulah kami minggu ini berkunjung ke Tanah Papua untuk mensosialisasikan dengan harapan semakin banyak yang daftar dan nantinya akan menerima beasiswa Chevening,”tandasnya.
Lebih lanjut diungkapkan oleh Vonny Lisayani, sampai saat ini, alumni penerima beasiswa chevening di seluruh Indonesia tercatat sudah ada 2.000 alumni, dari Tanah Papua ada sekitar 10 alumni, termasuk salah satu dari Kota Sorong yang jadi narasumber pada kegiatan sosialisasi yang digelar di Kota Sorong.
Vonny juga mengatakan bahwa program beasiswa chevening ini adalah beasiswa penuh, 100 persen dibiayai , termasuk uang kuliah, biaya hidup, tiket pesawat pulang-pergi ke Inggris, visa, askes dan tunjangan-tunjangan lainnya selama menempuh pendidikan S2 di Inggris.
“Tapi yang lebih penting adalah penerima beasiswa chevening ini punya kesempatan untuk bernetwork atau berjejaring dengan institusi organisasi yang ada di Inggris, juga dengan sesama penerima beasiswa chevening dari seluruh dunia. Karena setelah kembalinya atau selesainya program beasiswa Chevening ini, mereka tidak selesai begitu saja ya. Kami di Indonesia punya asosiasi alumni Chevening Indonesia (CAI) yang jadi wadah bagi mereka untuk kembali kemudian bisa berkolaborasi atau terkoneksi),”jelas Vonny.
Menanyakan syarat penerima beasiswa chevening , diungkapkan. WNI, minimal ijazah S1 atau D4, minimal 2 tahun pengalaman kerja setelah lulus S1, dan mendemostrasikan kapasitas sebagai seorang pemimpin dengan cara membuat essay
Karena itu dalam kegiatan sosialisasi, ada alumni yang menshare cerita atau tips bagaimana essay yang baik sehingga bisa lolos sebagai penerima beasiswa chevening. Menanyakan tentang usia, dikatakan bahwa dalam persyaratan tidak ada batasan usia. Dan juga tidak diminta sertfikat Bahasa Inggris.
Yang pasti setelah memenuhi 4 persyaratan yang telah disebutkan maka sudah bisa mendaftar program beasisswa chevening.
“Selama beberapa tahun terakhir kami memang fokus untuk melakukan sosialisasi ke Indonesia Timur, khususnya Papua dengan harapan supaya lebih banyak lagi yang daftar program beasiswa chevening dari seluruh wilayah Papua dan menjadi penerima beasiswa. Semoga semakin menginspirasi publik di Tanah Papua supaya memanfaatkan kesempatan beasiswa ini,”pungkas Vonny Lisayani. (min)